Sumbawanews.com,- Presiden Prabowo Subianto merespons berbagai kritik terhadap pemerintahannya, mulai dari struktur kabinet, frekuensi kunjungan luar negeri, hingga besar anggaran program prioritas, dengan menekankan pentingnya kebijakan berbasis fakta dan dampak nyata bagi rakyat. Ia menegaskan bahwa kritik adalah bagian tak terpisahkan dari demokrasi, tetapi harus diukur dari realitas yang dihadapi masyarakat, bukan narasi yang terpisah dari konteks.
Prabowo mempertahankan komposisi Kabinet Merah Putih yang dinilai terlalu besar dengan membandingkan jumlah penduduk dan luas wilayah Indonesia yang jauh lebih besar dibanding negara seperti Timor Leste, yang memiliki 28 menteri untuk populasi 1,1 juta jiwa. Menurutnya, koalisi politik yang luas diperlukan untuk menjaga stabilitas pemerintahan, yang menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi dan transformasi sektor strategis.
Terkait seringnya kunjungan ke luar negeri, ia menyatakan keheranannya atas kritik yang bertolak belakang dengan yang pernah ditujukan kepada Presiden Joko Widodo, yang sebelumnya dianggap terlalu jarang melakukan diplomasi luar negeri. Prabowo menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Indonesia tetap berlandaskan prinsip bebas aktif dan non-blok, dengan tujuan menjalin persahabatan dengan semua kekuatan global tanpa terikat pakta militer.
Pada isu anggaran, ia membantah bahwa pengeluaran besar untuk program seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, dan perumahan rakyat adalah pemborosan. Ia menekankan bahwa uang negara harus berputar di dalam ekonomi rakyat, bukan mengalir keluar. Program-program itu, kata dia, dirancang untuk memastikan petani dan nelayan memiliki jaminan pasar, serta mencegah kebocoran anggaran akibat korupsi.
Prabowo menutup responsnya dengan menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan berhenti pada retorika. Ia mengakui perjalanan Indonesia belum sempurna, tetapi menolak mempertahankan pola lama jika ingin melampaui pertumbuhan ekonomi 5 persen yang selama ini stagnan. “Kami akan menjawab kritik bukan dengan kata-kata, melainkan dengan hasil nyata yang dapat diukur oleh siapa pun, di mana pun,” tegasnya.















