Sumbawanews.com,- Piala Dunia 2026 sudah memasuki hari ke-11, dan di tengah euforia gelora sepak bola di tanah air sendiri—Amerika Serikat—seorang tokoh paling berpengaruh di negeri itu justru tak terlihat di stadion. Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, belum pernah hadir secara langsung menonton pertandingan tim nasionalnya, meski The Stars and Stripes telah menang telak atas Paraguay 4-1 dan Australia 2-0.
Kehadiran Trump di ajang olahraga besar memang tak pernah diragukan. Dari Super Bowl hingga final NBA, dari UFC hingga Piala Dunia Antarklub 2025, ia kerap menjadi sosok yang memadati tribun kehormatan. Tapi kali ini, ia memilih untuk tidak hadir—bukan karena ketidaktahuan, tapi karena prioritas lain. Saat laga pembuka AS melawan Paraguay, Trump justru berada di fasilitas penerbangan militer di Virginia, meresmikan pesawat kepresidenan baru, hadiah dari Pemerintah Qatar. Laga kedua melawan Australia, ia menghubungi pelatih Mauricio Pochettino lewat telepon untuk memberi semangat, tapi tak pernah muncul di depan kamera.
Gedung Putih tak memberikan penjelasan resmi atas ketidakhadirannya. Namun, sejumlah pejabat tinggi justru tampil menggantikan posisinya. Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Senator Markwayne Mullin, mantan Menteri Perdagangan Robert F. Kennedy Jr., dan anggota Kongres Sean Duffy terlihat memadati stadion, menyaksikan laga dari kursi kehormatan. Kepala Gugus Tugas Piala Dunia 2026 dari Gedung Putih, Andrew Giuliani, mengatakan bahwa Trump “sangat bersemangat” setelah kemenangan pertama timnya, dan menilai tim ini memiliki “peluang istimewa” di turnamen ini.
“Saat tim terus bermain sebaik ini, Anda akan melihat semakin banyak pejabat tinggi yang hadir,” ujar Giuliani, merespons pertanyaan apakah Trump akan datang ke laga ketiga melawan Turki pada 25 Juni mendatang. Ia menjanjikan “perwakilan tingkat tinggi” di Los Angeles, tapi menolak menyebut siapa yang dimaksud—meninggalkan spekulasi bahwa kehadiran Trump masih mungkin, atau justru menjadi sinyal perubahan sikap.
Pertanyaan yang muncul pun tak lagi sekadar “mengapa dia tidak datang?”, tapi “apakah ini pertanda?”—apakah ketidakhadiran sang presiden adalah bentuk ketidakpedulian terhadap sepak bola, atau justru strategi politik yang sengaja dijaga agar tidak terlihat terlalu terlibat dalam ajang global yang penuh kontroversi, terutama setelah sebelumnya ia pernah meminta FIFA mengganti Iran dengan Italia, dan menyatakan bahwa “hanya orang-orang yang tepat” yang boleh menonton di stadion.
Di tengah kemenangan timnas AS yang mengerek semangat nasional, kehadiran Trump justru menjadi simbol yang lebih besar dari sekadar sepak bola. Ia tak absen karena tak peduli—tapi karena ia memilih untuk menjadi presiden, bukan penonton. Dan di dunia yang serba visual, keabsenan itu justru berbicara lebih keras daripada kehadiran.















