Sumbawanews.com,- Beijing — Pemerintah China secara tegas menyatakan dukungannya terhadap kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran, yang dinilai sebagai langkah krusial memulihkan stabilitas di kawasan Teluk. Dalam konferensi pers di Beijing, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menyambut baik penandatanganan nota kesepahaman tahap pertama antara kedua negara, sekaligus mengapresiasi peran mediasi Pakistan yang dinilai kunci dalam mencapai titik temu.
Kesepakatan ini, yang diumumkan langsung oleh Presiden AS Donald Trump melalui platform Truth Social, mencakup pencabutan blokade Angkatan Laut AS di Selat Hormuz dan pembukaan kembali jalur pelayaran strategis itu tanpa pungutan. “Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai,” tulis Trump, menegaskan bahwa keamanan maritim di jalur vital global itu kembali dipulihkan.
Lin Jian menekankan bahwa pembukaan Selat Hormuz bukan sekadar kepentingan teknis, tetapi kebutuhan strategis bagi perekonomian global. “Memulihkan kebebasan navigasi di selat ini berarti menjaga kepentingan bersama seluruh negara pengekspor energi dan negara pengimpor minyak,” ujarnya. Ia menambahkan, teks nota kesepahaman yang disepakati AS-Iran secara eksplisit menyebutkan hal ini, dan China berharap implementasinya berjalan cepat dan transparan.
Meski tidak terlibat langsung dalam perundingan, China menegaskan posisinya sebagai aktor yang konsisten mendorong penyelesaian konflik melalui dialog. Lin Jian mengingatkan bahwa sejak awal ketegangan memanas, Presiden Xi Jinping telah mengajukan empat prinsip utama untuk keamanan dan stabilitas Timur Tengah — yang kini mulai mendapat respons positif dari berbagai pihak. “China sebagai negara besar yang bertanggung jawab, akan terus berkontribusi demi perdamaian abadi di kawasan ini,” tegasnya.
Di sisi lain, Iran memastikan penandatanganan dokumen resmi akan berlangsung di Swiss pada 19 Juni mendatang. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengonfirmasi bahwa kesepakatan mencakup penghentian semua operasi militer di berbagai front, termasuk di Lebanon, serta komitmen Iran untuk tetap mematuhi Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan tidak mengembangkan senjata nuklir.
Namun, respons tidak seragam. Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, langsung menolak mengakui kesepakatan itu sebagai ikatan hukum bagi negaranya, menegaskan bahwa keamanan Israel tidak akan bergantung pada perjanjian antara Washington dan Teheran.
Sejumlah negara Eropa, termasuk Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia, sebelumnya telah menyambut positif perkembangan ini. Italia bahkan menyatakan siap berperan dalam menjaga keamanan maritim di Selat Hormuz. Sementara itu, Indonesia juga menyambut baik inisiatif tersebut dan mendesak deeskalasi segera di seluruh wilayah konflik.
Dengan dibukanya Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak yang menghubungkan 20% pasokan global energi kini kembali berjalan normal. Bagi China — yang mengimpor sebagian besar minyaknya melalui rute ini — keputusan ini bukan hanya soal diplomasi, tapi kepentingan strategis yang tak bisa diabaikan.

















