Sumbawanews.com,- Iran mengeklaim telah menghancurkan sekitar 70 persen target militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah melalui serangan rudal balistik dan drone yang terkoordinasi. Pernyataan ini disampaikan oleh sumber militer Iran kepada media semi-pemerintah *Fars News*, berdasarkan analisis citra satelit dan data intelijen yang diklaim akurat.
Menurut laporan yang dikutip *Middle East Monitor*, operasi militer Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara AS yang dipasang di sejumlah pangkalan strategis, termasuk Pangkalan Udara Azraq di Yordania, Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, serta fasilitas pendukung Armada Kelima AS di Bahrain. Serangan ini, kata sumber itu, dirancang untuk membalas serangan berkelanjutan AS dan sekutunya, terutama Israel, terhadap kepentingan Iran di kawasan.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebelumnya mengumumkan telah menargetkan 21 lokasi militer AS di negara-negara Arab sebagai respons atas serangan yang mereka anggap melanggar gencatan senjata sementara yang sempat disepakati pada Februari lalu. Meski kesepakatan itu awalnya ditujukan untuk meredakan ketegangan, Iran menuduh AS dan Israel terus melanggar kesepakatan dengan melakukan serangan udara dan operasi rahasia di wilayah Lebanon dan Irak.
Hingga kini, pihak Amerika Serikat dan pemerintah negara-negara yang menjadi sasaran—Yordania, Kuwait, dan Bahrain—belum memberikan komentar resmi mengenai dampak serangan tersebut. Namun, laporan intelijen Barat menyebut sejumlah fasilitas mengalami kerusakan ringan hingga sedang, tanpa korban jiwa besar yang dilaporkan.
Dalam pernyataan terpisah, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, unit strategis IRGC, menegaskan bahwa serangan ini bukanlah akhir dari respons Iran. “Jika AS dan rezim Zionis tidak segera menghentikan agresinya, kami akan mengambil tindakan yang jauh lebih keras,” demikian peringatan yang disampaikan.
Ketegangan antara Iran dan AS memang belum mereda meski perundingan diplomatik sempat berlangsung. Presiden AS Donald Trump, yang kembali menjabat pada 2025, beberapa kali menyatakan sikap tegas terhadap Teheran, termasuk mengancam tindakan militer lebih luas. Sementara itu, para pejabat Iran terus menekankan bahwa mereka tidak mencari perang, tetapi siap menghadapi setiap bentuk provokasi.
Dengan serangan ini, krisis keamanan di Timur Tengah kembali memasuki fase paling kritis sejak awal tahun. PBB dan sejumlah negara sekutu AS di Eropa kini mendesak kedua belah pihak untuk kembali ke meja perundingan, sementara pasar minyak global mencatat fluktuasi tajam akibat kekhawatiran akan gangguan terhadap jalur pengiriman energi di Selat Hormuz.

















