Sumbawanews.com,- Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana serangan udara terhadap Iran pada Kamis malam, 11 Juni 2026, setelah mendapat tekanan diplomatik mendesak dari para pemimpin Qatar, Uni Emirat Arab, dan Pakistan. Menurut sumber pemerintahan AS yang dikutip Politico, kesepakatan nuklir yang telah berbulan-bulan dinegosiasikan diklaim hampir final, dan serangan militer dianggap akan menghancurkan peluang damai yang paling dekat dalam dekade terakhir.
Dalam percakapan darurat yang berlangsung sepanjang malam, Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, Presiden UEA Mohammed bin Zayed Al Nahyan, dan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir berhasil meyakinkan Trump bahwa Iran telah sepakat pada prinsip-prinsip utama kesepakatan. Mereka menekankan bahwa serangan militer akan memicu balasan masif dari Teheran, meruntuhkan kepercayaan sekutu regional, dan memperdalam krisis energi global.
Trump awalnya memerintahkan pasukan AS untuk bersiap menyerang fasilitas nuklir dan militer Iran, dengan target serangan dijadwalkan pada dini hari Jumat. Namun, setelah menerima laporan bahwa Iran telah menyetujui pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade ekonomi AS terhadapnya, ia menghentikan operasi. “Saya diberi jaminan bahwa pimpinan Iran siap menandatangani perjanjian ini—dan saya percaya mereka,” kata Trump dalam pernyataan mendadak yang disiarkan ke seluruh jajaran militer.
Kesepakatan yang hampir final mencakup dua poin krusial: pertama, akses Iran terhadap lebih dari US$16 miliar (sekitar Rp286 triliun) dana yang selama ini dibekukan di rekening Qatar dan negara-negara netral; kedua, komitmen Iran untuk membatasi program uraniumnya secara ketat, dengan pengawasan internasional yang diperluas. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengonfirmasi bahwa draf nota kesepahaman telah disetujui secara prinsip oleh kedua belah pihak dan siap ditandatangani dalam waktu 48 jam.
Sumber diplomatik mengatakan lokasi penandatanganan kemungkinan besar akan berada di Eropa—mungkin Swiss atau Austria—dengan perantara dari negara-negara yang tetap netral. Meski belum ada dokumen resmi yang dirilis, para pejabat AS dan Iran telah mulai mengirim tim teknis untuk menyusun rincian hukum dan mekanisme verifikasi.
Langkah Trump ini menandai pergeseran tajam dari retorika agresifnya selama beberapa bulan terakhir, di mana ia kerap mengancam “menghancurkan Iran sampai ke akar-akarnya.” Kini, ia menggambarkan keputusan ini sebagai “keberanian untuk memilih perdamaian, bukan kehancuran.”
Analisis keamanan global menilai bahwa kesepakatan ini, jika terealisasi, akan menjadi titik balik geopolitik paling signifikan sejak perjanjian nuklir 2015. Namun, tantangan besar masih menanti: konsensus di dalam pemerintahan AS sendiri, tekanan dari Israel dan Arab Saudi, serta skeptisisme dari faksi keras di Teheran yang menolak konsesi apa pun kepada Washington.
Dengan waktu yang mepet, dunia menahan napas—menanti tanda tangan yang mungkin akan mengubah peta kekuatan di Timur Tengah selama generasi mendatang.

















