Sumbawanews.com,- Moskow mengklaim sejumlah perusahaan Eropa mulai kembali mengeksplorasi peluang di pasar Rusia, meski konflik di Ukraina masih berlangsung. Klaim ini disampaikan oleh Kirill Dmitriev, Kepala Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF) sekaligus Utusan Khusus Presiden Vladimir Putin untuk investasi dan kerja sama ekonomi internasional.
Menurut Dmitriev, banyak perusahaan Eropa yang sebelumnya meninggalkan Rusia pasca-invasi 2022 kini menghubungi pihak berwenang untuk mengevaluasi kemungkinan kembali beroperasi. “Kami menerima sinyal kuat dari banyak perusahaan Eropa yang ingin kembali ke pasar Rusia,” ujarnya dalam wawancara dengan *Berliner Zeitung*. Ia menambahkan, istilah “kelelahan” paling tepat menggambarkan kondisi mereka—karena sebelumnya, bisnis di Rusia pernah menjadi sumber pendapatan besar yang menghasilkan laba signifikan.
Data yang dikutip dari *Antara News* menunjukkan, sejumlah perusahaan Eropa mengalami penurunan pendapatan hingga 30-40 persen sejak menghentikan operasi di Rusia. Kehilangan akses ke pasar yang selama puluhan tahun menjadi salah satu tulang punggung bisnis mereka kini memaksa mereka mempertimbangkan ulang keputusan strategis yang diambil di tengah tekanan geopolitik.
Presiden Rusia Vladimir Putin secara terbuka menyatakan bahwa negaranya akan menyambut kembalinya perusahaan asing—asalkan mereka tidak meninggalkan “kekacauan” atau bersikap “kasar” saat keluar. “Kami tidak menuntut pengembalian aset, tapi kami menuntut integritas,” kata Putin dalam Forum Ekonomi Internasional Saint Petersburg 2026.
Otoritas Rusia menegaskan, perusahaan yang kembali tidak akan mendapat perlakuan istimewa. Mereka harus bersaing secara adil dengan pelaku lokal, tanpa insentif khusus. Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov sebelumnya menegaskan, pendekatan akan berbeda bagi perusahaan yang meninggalkan Rusia dengan cara “tidak hormat”—sebuah sinyal bahwa reputasi dan perilaku bisnis menjadi pertimbangan penting, bukan hanya keuntungan ekonomi.
Klaim ini muncul di tengah upaya Rusia membangun kembali jaringan ekonomi global yang terputus akibat sanksi Barat. Dengan memperkuat hubungan perdagangan dengan Asia, Afrika, dan Amerika Latin, Moskow kini berusaha menarik kembali kepercayaan bisnis Eropa—bukan dengan meminta maaf, tapi dengan menawarkan stabilitas dan akses pasar yang tetap menguntungkan.
Meski belum ada angka pasti tentang jumlah perusahaan yang telah kembali, sinyal dari kalangan bisnis Eropa menunjukkan pergeseran halus: dari ideologi ke realitas ekonomi. Di tengah inflasi global dan tekanan pasar, kepentingan bisnis mulai menyalip tekanan politik—dan Rusia tampaknya siap memanfaatkannya.

















