Sumbawanews.com,- Jumlah korban tewas akibat gempa bumi dahsyat berkekuatan M 7,8 yang mengguncang lepas pantai Mindanao, Filipina, pada Senin lalu, bertambah menjadi 53 orang. Data terbaru dari otoritas penanggulangan bencana menyatakan, sebanyak 487 orang lainnya mengalami luka-luka, sementara 17 orang masih dilaporkan hilang.
Kepala Pemadam Kebakaran Anthony Arroyo mengkonfirmasi, sebagian jenazah yang ditemukan belum dapat diidentifikasi karena kondisi tubuh yang parah akibat reruntuhan bangunan dan tebing longsor. Sebagian besar korban jiwa berasal dari Wilayah 11 dan Wilayah 12, meskipun angka tersebut masih menunggu verifikasi resmi oleh dewan nasional.
Gempa yang terjadi pukul 07.37 waktu setempat itu berpusat di lepas pantai provinsi Sarangani, memicu kerusakan masif di sejumlah kota dan desa di seluruh Mindanao. Bangunan-bangunan runtuh, jaringan listrik dan pasokan air putus, serta jalan-jalan utama terputus akibat tanah longsor. Di kota General Santos dan sekitarnya, tim penyelamat terus bergulat dengan reruntuhan, mencari korban yang masih terperangkap di bawah puing-puing bangunan yang belum dibersihkan.
Operasi pencarian dan evakuasi masih berlangsung intensif di tengah tantangan akses jalan yang terbatas dan cuaca yang tidak menentu. Para petugas mengkhawatirkan angka korban bisa terus meningkat, terutama di daerah-daerah terpencil yang baru mulai bisa dijangkau setelah jalur darat dibersihkan dari material longsor.
Meskipun gempa ini memicu peringatan tsunami di beberapa wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi dan Kalimantan, gelombang yang tercatat tertinggi hanya mencapai 75 sentimeter dan tidak menyebabkan kerusakan signifikan di pesisir. Namun, dampak terberat tetap dirasakan di Filipina, di mana infrastruktur yang rapuh dan keterbatasan sumber daya memperparah akibat bencana.
Pemerintah Filipina telah mengaktifkan respons darurat nasional, sementara bantuan kemanusiaan dari berbagai negara mulai mengalir ke wilayah terdampak. Namun, para ahli memperingatkan bahwa fase pemulihan akan memakan waktu bertahun-tahun, terutama bagi ribuan keluarga yang kehilangan rumah dan mata pencaharian.

















