Sumbawanews.com,- Di lereng pegunungan Lombok Timur, empat ruang kelas berwarna hijau berdiri kokoh—tak seperti sekolah biasa. Dindingnya bukan dari beton atau bata, melainkan blok yang terbuat dari 100 persen sampah plastik daur ulang. Bangunan ini bukan sekadar solusi darurat, tapi simbol inovasi: menjawab kebutuhan pendidikan pasca-gempa sekaligus mengatasi krisis lingkungan.
Sekolah Dasar Negeri 2 Pohgading, yang berdiri sejak 1956, sempat kehilangan empat ruang kelasnya akibat gempa berkekuatan 7,0 SR pada 2018. Selama bertahun-tahun, 342 siswa dan 14 kelompok belajar terpaksa belajar di bangunan sementara yang panas, bising, dan tidak layak. Kini, dengan kehadiran ruang kelas baru hasil kolaborasi antara organisasi nirlaba asal Australia, Classroom of Hope, dan perusahaan lokal Block Solutions, proses belajar mengajar kembali berjalan dengan nyaman.
Setiap ruang kelas memanfaatkan sekitar 1,5 ton plastik yang dikumpulkan dari seluruh Indonesia. Material ini diproses menjadi blok ringan, fleksibel, dan tahan gempa hingga magnitudo 8,0. Teknologi konstruksinya pun revolusioner: tanpa semen, blok-blok ini disusun seperti lego, sehingga satu ruang kelas bisa selesai dalam delapan jam setelah pondasi siap.
“Ini bukan hanya soal bangunan aman, tapi juga soal tanggung jawab kita terhadap lingkungan,” ujar Upan Thamrin, Project Coordinator Happy Hearts Indonesia. “Kita mengubah limbah yang selama ini jadi masalah, menjadi solusi yang menyelamatkan masa depan anak-anak.”
Pabrik Block Solutions di Mataram, Lombok Barat, menjadi pabrik pertama di Asia yang memproduksi blok plastik daur ulang untuk bangunan pendidikan. Awalnya, teknologi ini diimpor dari Finlandia, namun kini telah sepenuhnya diproduksi lokal—menciptakan lapangan kerja sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan impor.
Hingga kini, Classroom of Hope telah membangun 50 sekolah dan 184 ruang kelas serupa di Lombok, dengan 104 toilet berbahan serupa. Semua struktur dirancang tahan hingga 100 tahun, menjadikannya solusi jangka panjang, bukan sekadar tanggap darurat.
Kepala SDN 2 Pohgading, Rusman, mengatakan perubahan yang dirasakan anak-anak tak terbantahkan. “Dulu mereka belajar dalam kekhawatiran. Sekarang, mereka tersenyum. Ruang ini bukan hanya tempat belajar, tapi rumah kedua mereka—yang aman, hijau, dan penuh harapan.”
Di tengah gempa yang kerap mengguncang Ring of Fire, Lombok kini punya bukti nyata: sampah bukan akhir, tapi awal dari sesuatu yang lebih bermakna.

















