Sumbawanews.com,- Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Kapolri, mengumumkan rencana menghidupkan kembali Satuan Tugas Anti-Mafia Bola guna memerangi praktik perjudian ilegal yang dikhawatirkan meledak selama Piala Dunia 2026. Dalam keterangan resminya di Mabes Polri, Sigit menegaskan bahwa momentum turnamen sepak bola terbesar di dunia ini tidak boleh dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok kriminal untuk menggerogoti integritas olahraga dan merusak keharmonisan sosial.
“Kami akan aktifkan kembali Satgas ini agar tidak ada pihak yang berani mempolitisasi atau mengkomersialkan Piala Dunia lewat judi gelap,” tegas Sigit. Ia menekankan bahwa hiburan massal yang seharusnya mempersatukan suporter dari berbagai latar belakang jangan sampai dicemari oleh praktik ilegal yang berpotensi menimbulkan konflik sosial, kecemasan finansial, hingga kekerasan.
Tak hanya fokus pada penindakan, Polri juga akan memfasilitasi nonton bareng (nobar) Piala Dunia di seluruh jajaran, mulai dari Mabes Polri hingga tingkat Polsek. Tujuannya tak hanya untuk menjamin keamanan dan ketertiban, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal melalui partisipasi UMKM. “Ini adalah hiburan rakyat, sekaligus peluang ekonomi. Kami siap membantu perizinan, pengamanan, dan logistik nobar agar berjalan lancar dan merata,” ujar Sigit.
Ia mengajak masyarakat untuk menikmati pertandingan dengan semangat sportivitas, tanpa terjebak dalam ajang taruhan yang berbahaya. “Sepak bola adalah keindahan, bukan alat spekulasi. Mari kita jaga kegembiraan bersama tanpa mengorbankan nilai-nilai kejujuran dan kemanusiaan.”
Dalam upaya ini, Polri akan bekerja sama dengan lembaga terkait, termasuk Kementerian Komunikasi dan Informatika, untuk memantau transaksi daring mencurigakan dan menutup situs judi ilegal yang marak menjelang turnamen. Sigit memastikan, operasi ini bukan sekadar simbolis, tetapi akan dilakukan secara sistematis, terkoordinasi, dan berbasis data.
Dengan Piala Dunia 2026 yang akan dibuka oleh Meksiko melawan Afrika Selatan, pemerintah berkomitmen menjadikan even global ini sebagai ajang kebanggaan nasional—bukan ladang keuntungan bagi para mafia.

















