Sumbawanews.com,- Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa ia berada tepat di dalam kantor Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei saat serangan udara gabungan AS-Israel menghancurkan kompleks kepemimpinan di Teheran pada 23 Februari lalu. Dalam wawancara eksklusif dengan Al Mayadeen, Araghchi menceritakan momen-momen suram yang menguji nyawa dan iman para pejabat tertinggi Iran.
Ia baru kembali dari perundingan damai di Jenewa pada Jumat malam, dan pada Sabtu pagi pukul 09.00, ia langsung melapor ke kantor Khamenei untuk menyampaikan analisis terkini tentang kemungkinan pecahnya perang. “Saya sedang menyampaikan laporan ketika ledakan mengguncang bangunan,” ujar Araghchi. “Sayap tempat saya duduk tidak runtuh, tapi seluruh struktur di sekitar kami hancur berkeping-keping.”
Dalam kekacauan debu dan puing, naluri pertama Araghchi bukan menyelamatkan diri. “Saya tidak memikirkan keselamatan saya. Yang terpikir hanya satu: apakah Pemimpin masih hidup?” Ia mengingat rutinitas harian Khamenei yang tak pernah absen di kantor pagi hari, dan keyakinannya bahwa sang Pemimpin pasti berada di dalam gedung saat serangan terjadi.
Selama 48 jam berikutnya, ia hidup dalam ketidakpastian yang menyiksa. Komunikasi terputus, informasi tersebar tak jelas, dan dunia menunggu kabar apakah simbol spiritual dan politik Iran masih tegak. “Setiap detik terasa seperti tahun,” katanya. Hingga akhirnya, konfirmasi resmi tiba: Khamenei selamat, meski gedungnya hancur dan sejumlah staf gugur.
Citra satelit yang dirilis oleh Vantor menunjukkan kerusakan parah di kompleks kepemimpinan—bangunan utama runtuh, jendela-jendela berhamburan, dan jalan-jalan di sekitarnya berubah menjadi medan perang. Namun, di tengah kehancuran itu, keberlangsungan pemerintahan Iran tetap utuh. Khamenei, meski berusia 85 tahun dan terluka ringan, segera muncul di depan kamera untuk menegaskan bahwa serangan itu justru memperkuat tekad bangsa Iran.
“Mereka mengira dengan membunuh saya, mereka akan menghancurkan revolusi,” kata Khamenei dalam pidato setelah serangan. “Tapi mereka salah. Revolusi bukan pada satu orang. Revolusi ada pada jutaan jiwa yang tak takut mati.”
Araghchi, yang kini tetap memimpin diplomasi Iran di tengah eskalasi militer, mengatakan bahwa serangan itu bukan sekadar upaya fisik, tapi psikologis—mencoba mengguncang kepercayaan rakyat terhadap sistem kepemimpinan. “Mereka ingin menunjukkan bahwa tidak ada yang kebal. Tapi justru, mereka membuktikan bahwa ketahanan kami tak bisa dihancurkan oleh rudal, bahkan oleh kehancuran.”
Di tengah gempuran berkelanjutan dari AS dan sekutunya, termasuk serangan ke pangkalan udara di Kuwait dan markas Armada Kelima di Teluk, Iran tetap bertahan. Dan di balik reruntuhan gedung itu, sebuah pesan tak terucap namun terdengar jelas: Pemimpin mungkin bisa terluka, tapi negara tidak akan tunduk.

















