Home Berita Internasional Ribuan Warga Peru Protes Kandidatur Keiko Fujimori

Ribuan Warga Peru Protes Kandidatur Keiko Fujimori

Sumbawanews.com,- Lima – Ribuan orang memadati jalanan pusat ibu kota Lima, memprotes kandidatur Keiko Fujimori dalam pemilu presiden Peru. Demonstran yang sebagian besar adalah mahasiswa, aktivis hak asasi manusia, dan warga sipil yang kecewa dengan warisan politik keluarganya, menuntut agar putri mantan presiden Alberto Fujimori tidak diperbolehkan maju lagi ke kursi kepresidenan.

Keiko, yang telah mencalonkan diri empat kali dan menjadi tokoh paling kontroversial dalam sejarah politik modern Peru, adalah anak dari Alberto Fujimori—mantan presiden yang dihukum 16 tahun penjara karena kejahatan terhadap kemanusiaan, termasuk pembunuhan, penculikan, dan pelanggaran hak asasi manusia massal selama pemerintahannya pada 1990-an hingga awal 2000-an.

Demonstrasi yang berlangsung damai namun penuh emosi ini menampilkan spanduk bertuliskan “Tidak untuk Kembali ke Diktator” dan “Keadilan untuk Korban, Bukan Kursi Kepresidenan.” Beberapa peserta membawa foto para korban pelanggaran HAM di era ayahnya, sambil menyanyikan lagu-lagu perlawanan dari masa rezim otoriter.

Meski Keiko Fujimori telah dibebaskan dari tahanan pada 2022 setelah vonisnya dibatalkan oleh pengadilan, banyak pihak menilai keputusan itu lebih bersifat teknis hukum daripada moral. Pemerintah dan lembaga internasional seperti Amnesty International dan Human Rights Watch terus menekankan bahwa kejahatan yang dilakukan oleh rezim ayahnya tidak bisa dihapus hanya karena perubahan hukum.

Kampanye Keiko berargumen bahwa ia telah “berubah” dan ingin memperbaiki ekonomi serta menangani korupsi. Namun, para pengunjuk rasa menolak narasi itu. “Kami tidak memilih sejarah. Kami memilih masa depan,” kata Carla Mendoza, seorang guru berusia 34 tahun yang ikut berdemonstrasi.

Pemilu presiden Peru dijadwalkan berlangsung pada akhir tahun ini, dan survei terbaru menunjukkan Keiko masih memimpin dalam beberapa jajak pendapat—meski dengan margin yang terus menyempit akibat tekanan publik dan munculnya kandidat baru yang menjanjikan reformasi sistemik.

Pemerintah Peru, di bawah kepemimpinan Presiden Dina Boluarte, belum memberikan pernyataan resmi, tetapi aparat keamanan dikerahkan dalam jumlah besar untuk menjaga ketertiban. Tidak ada laporan kekerasan selama aksi, namun polisi menangkap sejumlah aktivis yang diduga mencoba memperluas demonstrasi ke kantor Komisi Pemilihan Umum.

Dengan kekuatan politik yang masih kuat di Kongres dan dukungan dari sebagian besar media konservatif, Keiko Fujimori tetap menjadi ancaman serius bagi demokrasi Peru—bukan karena popularitas semata, tapi karena kemampuannya menghidupkan kembali narasi yang pernah menghancurkan institusi negara.

Bagi banyak warga Peru, pemilu mendatang bukan sekadar pilihan antar kandidat. Ini adalah ujian: apakah negara itu akan melanjutkan perjalanan menuju keadilan, atau kembali terperangkap dalam bayang-bayang diktator yang pernah menguasainya.

Previous articleToko Kosmetik Jadi Samaran Peredaran Obat Keras di Jakpus
Next articleBos WO Penipu Puluhan Calon Pengantin Ditahan
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik