Sumbawanews.com,- Gedung Putih berubah menjadi panggung olahraga ekstrem saat Donald Trump merayakan ulang tahunnya yang ke-80 dengan menggelar pertandingan Ultimate Fighting Championship di halaman depan kompleks kepresidenan Amerika Serikat. Arena oktagon khas UFC dibangun secara sementara di tepi Portico Utara, dikelilingi dekorasi bernuansa bendera AS—merah, putih, dan biru—dengan tribun penonton berkapasitas 5.000 orang, layar raksasa, dan area khusus untuk marching band.
Pembangunan arena, yang mulai dilakukan sejak awal Mei 2026, menarik perhatian warga Washington D.C. dan turis yang berdatangan menyaksikan proses pemasangan struktur baja dan penataan tempat duduk. Acara rencananya berlangsung pada 14 Juni mendatang, bertepatan dengan perayaan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat. Trump, yang dikenal sebagai penggemar berat MMA dan memiliki hubungan dekat dengan CEO UFC Dana White, mengumumkan gagasan ini sejak perayaan Hari Kemerdekaan tahun lalu.
Dua laga juara dijadwalkan menjadi sorotan utama, termasuk pertarungan kelas ringan antara juara dunia Ilia Topuria melawan petarung garang Justin Gaethje. Kedua petinju ini dipilih karena popularitasnya yang tinggi dan gaya bertarung yang spektakuler—sesuai dengan citra Trump yang gemar menonjolkan drama dan kehebatan.
Meski menuai kritik dari sejumlah kalangan yang mempertanyakan kesesuaian tempat, pihak kepresidenan menegaskan bahwa acara ini bersifat non-politik dan bertujuan mempromosikan semangat nasionalisme melalui olahraga. Tim keamanan Gedung Putih juga telah bekerja sama dengan otoritas UFC untuk memastikan protokol keselamatan ketat, termasuk pengawasan udara dan pengendalian akses.
Pertunjukan ini bukan hanya perayaan pribadi, tetapi juga simbol dari gaya kepemimpinan Trump yang tak segan mengubah simbol-simbol kekuasaan menjadi panggung hiburan. Di tengah kontroversi, ribuan tiket ludes terjual dalam hitungan jam, dan jutaan penonton di seluruh dunia diprediksi menyaksikan siaran langsungnya.
Dengan latar belakang patung-patung sejarah dan monumen nasional yang berdiri megah, Gedung Putih—selama satu malam—bukan lagi simbol kekuasaan politik, tapi arena tempat tubuh beradu, darah mengalir, dan semangat Amerika dipertaruhkan.















