Sumbawanews.com,- Jakarta – Di halaman belakang Masjid Istiqlal, dua sapi jantan berukuran jumbo menjadi pusat perhatian ribuan jamaah yang datang menyambut Idul Adha. Mereka bukan sekadar hewan kurban biasa—melainkan hadiah dari Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang sengaja diberi nama simbolis: ‘Si Loreng’ dan ‘Wirabumi’.
‘Si Loreng’, sapi Simental Cross milik Presiden, berbobot 1,3 ton dan mudah dikenali dari bulu putih yang menyerupai topi di puncak kepalanya. Sementara ‘Wirabumi’, sapi dari Wapres Gibran, memiliki tubuh berwarna cokelat gelap dengan bobot 1,2 ton dan tali leher berwarna merah-biru yang menandai kebangsaan. Keduanya berdampingan tenang di bawah terik matahari, siap disembelih esok hari dalam ritual kurban yang menjadi simbol keikhlasan dan keadilan sosial.
Direktur Media Masjid Istiqlal, M Asdar, mengonfirmasi nama-nama tersebut sebagai pilihan yang sengaja dipilih untuk menggambarkan nilai-nilai kebangsaan. “‘Si Loreng’ mengingatkan pada kekayaan alam Indonesia yang beragam, sementara ‘Wirabumi’ adalah nama klasik yang merujuk pada tanah air, simbol kekuatan dan kesatuan,” ujarnya.
Kehadiran kedua sapi ini bukan hanya soal ukuran atau asal-usulnya, tapi juga menjadi magnet spiritual dan sosial. Warga dari berbagai penjuru Jakarta berbondong-bondong mengabadikan momen bersama hewan kurban yang biasanya hanya dilihat di televisi. Tia, seorang ibu rumah tangga dari Jakarta Barat, mengaku sudah dua tahun berturut-turut datang khusus untuk berfoto dengan sapi kurban presiden. “Sapinya besar, tapi tenang. Takut sih, tapi penasaran. Ini kan bukan sapi biasa—ini bagian dari sejarah,” katanya sambil memeluk anaknya yang terpana melihat hewan raksasa itu.
Ekky, ayah dari dua anak kecil, sengaja membawa keluarganya setelah salat Id untuk memberi edukasi sederhana. “Anak-anak biasanya hanya lihat sapi di buku atau di TV. Tapi ini? Ini nyata. Ada warna, ada tali, ada ‘style’. Mereka langsung antusias,” ujarnya, tertawa. “Saya bilang, ‘Ini sapi presiden, tapi juga milik kita semua’.”
Kedua sapi ini akan disembelih besok pagi, dan dagingnya akan didistribusikan ke panti asuhan, pondok pesantren, serta masyarakat kurang mampu di sekitar Jakarta. Proses penyembelihan akan dipantau ketat oleh tim medis hewan dan ulama, memastikan semua sesuai syariat dan standar kemanusiaan.
Dengan nama yang penuh makna dan penampilan yang mencolok, ‘Si Loreng’ dan ‘Wirabumi’ bukan sekadar hewan kurban. Mereka menjadi simbol—sekaligus pengingat—bahwa kebesaran jabatan tetap harus berakar pada kerendahan hati, dan kekuasaan yang sejati adalah yang mampu menyentuh kehidupan orang kecil, bahkan lewat seekor sapi.















