Sumbawanews.com,- Tren penyuntikan peptida untuk meningkatkan kebugaran, membangun otot, dan memperkuat libido kian marak di Amerika Serikat, didorong oleh promosi binaragawan di media sosial. Namun, para ilmuwan dan dokter mengingatkan bahwa klaim manfaatnya belum terbukti secara klinis pada manusia, sementara risiko keamanannya masih sangat belum terpahami. Peptida, rantai pendek asam amino yang berperan sebagai sinyal biologis dalam tubuh, seperti BPC-157, TB-500, GHK-Cu, dan KPV, banyak digunakan secara ilegal meski telah dilarang oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS sejak 2023. Beberapa jenis, termasuk ipamorelin dan CJC-1295, diklaim mampu merangsang hormon pertumbuhan, bahkan dikombinasikan dengan obat GLP-1 untuk membakar lemak sekaligus membangun otot—tapi tidak ada data uji klinis yang memadai untuk mendukung keamanan atau dosis tepatnya. Dokter spesialis olahraga Dan Cushman dari University of Utah menegaskan, informasi tentang komposisi dan kombinasi suntikan peptida masih abu-abu, dan sebagian besar bukti hanya berasal dari penelitian pada hewan, bukan manusia.















