Home Serba Serbi Tekno Gunung Burni Telong, Radius Zona Bahaya Diperkecil

Gunung Burni Telong, Radius Zona Bahaya Diperkecil

Sumbawanews.com,- Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menurunkan radius zona rekomendasi aman di sekitar Gunung Burni Telong, Aceh, dari 3 kilometer menjadi 2 kilometer dari puncak kawah. Keputusan ini diambil berdasarkan tren penurunan aktivitas vulkanik yang teramati sejak pertengahan Mei 2026, meskipun status gunung tetap pada Level II (Waspada).

Gunung api setinggi 2.624 meter di atas permukaan laut itu sebelumnya diturunkan dari level Siaga (III) ke Waspada (II) pada 3 Januari 2026. Kini, setelah lebih dari empat bulan pemantauan intensif, tidak lagi terdeteksi embusan asap atau gejala visual signifikan dari kawah. Data kegempaan pun menunjukkan penurunan drastis: dari rata-rata enam gempa vulkanik dalam (VA) per hari pada Maret, kini turun menjadi sekitar tiga kejadian per hari.

Namun, PVMBG menegaskan, penurunan aktivitas tidak berarti ancaman telah lenyap. Potensi bahaya tetap ada, terutama dari erupsi freatik—ledakan mendadak akibat pemanasan air tanah oleh panas gunung—yang bisa terjadi tanpa tanda-tanda kegempaan yang jelas. Selain itu, konsentrasi gas vulkanik di sekitar area fumarol dan solfatara masih berisiko tinggi, terutama saat cuaca mendung atau hujan, ketika udara lembap mempercepat akumulasi gas beracun seperti sulfur dioksida.

“Masyarakat, wisatawan, dan pendaki tetap dilarang mendekati radius dua kilometer dari kawah. Jangan pula berhenti atau berkemah di area fumarol, terlebih saat hujan turun,” tegas Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, dalam keterangan resminya.

Lana menambahkan, pemantauan terus dilakukan secara real-time melalui sejumlah alat seismik, kamera visual, dan sensor gas. PVMBG mengimbau warga sekitar untuk tetap waspada terhadap perubahan mendadak—baik dalam pola gempa maupun perubahan suhu tanah atau bau gas yang tidak biasa.

Gunung Burni Telong, yang terletak di Kabupaten Bener Meriah, pernah menjadi sorotan setelah gempa tektonik di sekitarnya memicu peningkatan aktivitas pada 2025. Kini, meski kondisi lebih stabil, masyarakat diminta tidak lengah. Sejarah menunjukkan bahwa gunung berapi yang tampak “tenang” justru bisa menjadi yang paling berbahaya jika tiba-tiba bangkit.

PVMBG akan terus memantau perkembangan dan segera mengumumkan perubahan status jika ditemukan indikasi peningkatan signifikan. Untuk sementara, kehidupan di sekitar gunung berjalan normal—tapi dengan ingatan yang tajam: alam tak pernah berjanji aman, hanya memberi tanda.

Previous articlePencopotan Kepala BGN Terkait Jual Beli Titik SPPG
Next articleAHY Ajak Diaspora di Rusia Jadi Jembatan Pembangunan Indonesia
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik