Sumbawanews.com,- Moskow – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengajak warga Indonesia di Rusia untuk tidak hanya menjadi duta budaya, tetapi juga mitra strategis dalam mewujudkan pembangunan nasional. Dalam pertemuan di Moskow pada 31 Mei 2026, AHY menekankan peran penting diaspora dalam menghubungkan potensi teknologi, investasi, dan inovasi antara kedua negara.
Pertemuan yang berlangsung di sela Konsultasi Bilateral II Indonesia-Rusia itu dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Federasi Rusia, Jose A.M. Tavares, jajaran KBRI Moskow, serta sejumlah perwakilan komunitas Indonesia yang berkiprah di bidang akademik, bisnis, dan riset. AHY menyampaikan apresiasi tinggi atas dedikasi KBRI dalam memperkuat hubungan bilateral, terutama dalam kerja sama infrastruktur dan konektivitas maritim.
“Setiap diplomasi internasional butuh koordinasi yang tak sederhana. Kami sangat menghargai upaya KBRI Moskow yang terus menjaga dan memperdalam hubungan strategis dengan Rusia,” ujar AHY.
Di hadapan para diaspora, AHY memaparkan sejumlah proyek strategis nasional yang menjadi fokus pemerintah dalam mewujudkan target pertumbuhan ekonomi 8 persen di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Program-program tersebut mencakup pembangunan Giant Sea Wall di Pantai Utara Jawa, program 3 juta rumah, pengembangan transportasi massal dan jaringan kereta lintas pulau, penerapan kebijakan Zero ODOL, pemulihan pascabencana, penguatan ketahanan air, serta percepatan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Menurut AHY, infrastruktur bukan sekadar fondasi ekonomi, tetapi juga tulang punggung ketahanan pangan, energi, dan air, sekaligus alat pemerataan pembangunan antarwilayah. “Diaspora Indonesia di Rusia memiliki posisi unik. Anda adalah jembatan yang menghubungkan keunggulan sumber daya manusia, riset teknologi, dan pasar potensial di Rusia dengan kebutuhan nyata pembangunan di Tanah Air,” katanya.
AHY menyoroti tiga bidang utama kolaborasi yang bisa dikembangkan: transfer pengetahuan dan teknologi, promosi investasi, serta penguatan diplomasi ekonomi. Ia mencontohkan peluang kerja sama di sektor energi bersih, logistik maritim, dan pengembangan produk unggulan Indonesia seperti kopi, rempah-rempah, dan hasil perikanan yang masih memiliki potensi besar di pasar Rusia.
“Kami ingin diaspora tidak hanya menjadi penonton, tapi aktor utama dalam membuka akses pasar. Produk Indonesia bisa lebih dikenal, lebih diminati, dan lebih kompetitif di sini—dan itu butuh suara, jaringan, dan kepercayaan yang Anda miliki,” tambahnya.
Menutup sambutannya, AHY menegaskan bahwa hubungan dengan diaspora bukan sekadar silaturahmi, melainkan ikatan kebangsaan yang dinamis. “Anda adalah bagian dari Indonesia yang sedang berkarya di ujung dunia. Kami percaya, dengan koneksi yang terjaga dan kolaborasi yang konsisten, kita bisa bersama-sama membangun Indonesia yang lebih maju, sejahtera, dan berdaya saing di kancah global.”
Pertemuan ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah Indonesia tidak hanya melihat diaspora sebagai simbol identitas, tetapi sebagai aset strategis yang bisa menggerakkan transformasi ekonomi nasional dari luar negeri.















