Sumbawanews.com,- Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan inovasi berbasis alam untuk menangkal ancaman mikroplastik yang meresap ke dalam tubuh ayam broiler melalui pakan dan air minum. Partikel plastik berukuran mikro yang kini terdeteksi di sejumlah bahan pakan ternak ini tidak hanya mengganggu kesehatan hewan—menyebabkan stres oksidatif, kerusakan usus, dan penurunan pertumbuhan—tetapi juga berpotensi masuk ke rantai makanan manusia.
Solusi yang diusung tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) ini berupa *feed additive* alami dari nanopartikel daun kirinyuh (*Chromolaena odorata*). Bukan sekadar ekstrak biasa, formulasi ini dirancang dengan mekanisme ganda: sebagai adsorben alami yang mampu mengikat mikroplastik di saluran pencernaan ayam, sekaligus sebagai sumber antioksidan yang menekan kerusakan sel akibat paparan polutan.
Fauzan Akbar Nugroho, ketua tim dari Program Studi Ilmu dan Industri Peternakan UGM, menjelaskan bahwa ukuran nanopartikel dari daun kirinyuh memperluas area permukaan secara signifikan, sehingga mampu menangkap partikel mikroplastik lebih efisien. “Setelah terikat, mikroplastik ini dikeluarkan bersama feses, tanpa terserap ke dalam jaringan tubuh ayam,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis, 11 Juni 2026.
Lebih jauh, kandungan flavonoid dan senyawa fenolik dalam daun kirinyuh berperan aktif dalam memperbaiki kesehatan mukosa usus dan menetralkan radikal bebas yang dihasilkan akibat paparan mikroplastik. Ini berarti, inovasi bukan hanya menghilangkan kontaminan, tapi juga memulihkan fungsi fisiologis ternak yang terganggu.
Riset kolaboratif yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu di bawah bimbingan M. Sofi’ul Anam ini diharapkan menjadi langkah strategis menuju peternakan berkelanjutan. “Kami ingin membuktikan bahwa solusi berbasis alam bisa menjawab tantangan global—dari keamanan pangan hingga perlindungan lingkungan—tanpa bergantung pada bahan kimia sintetis,” kata Fauzan.
Inisiatif ini sejalan dengan tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya terkait ketahanan pangan, kesehatan, dan pengurangan polusi. Jika dikembangkan lebih lanjut, *feed additive* berbasis kirinyuh bisa menjadi alternatif ramah lingkungan yang terjangkau bagi peternak skala kecil hingga besar, sekaligus mengurangi risiko kontaminasi mikroplastik di produk daging ayam yang dikonsumsi masyarakat.

















