Teheran, sumbawanews.com – Menteri Luar Negeri Iran, Seyyed Abbas Araqchi dalam sebuah wawancara media Selasa (13/01) menyatakan, Iran siap untuk tindakan apa pun, bahkan Jika Amerika Serikat ingin mencoba opsi militer yang pernah sicoba sebelumnya.
“Sekarang kesiapan kami jauh lebih besar dalam kuantitas dan kualitas daripada sebelum perang 12 hari. Kami siap untuk semua opsi; jika mereka ingin mencoba opsi militer atau opsi diplomatik dengan syarat-syarat yang saya sebutkan,” katanya.
Baca Juga: Khamenei kepada Demonstran: Kalian Telah Menyelesaikan Sebuah Perbuatan Besar
Menurutnya, beberapa pihak mencoba menyeret Amerika ke dalam perang dan perang tanpa akhir untuk mengamankan kepentingan Israel. “Kita perlu melihat sejauh mana Amerika memilih jalan kebijaksanaan,” ucapnya.
Ia kembali menegaskan, Orang siap untuk semua opsi dan berharap opsi tersebut akan dipilih dengan bijak dan mereka akan memperhatikan siapa yang ingin membawa Amerika ke jalan yang mereka inginkan dan memperhatikan upaya untuk menipu Washington. “Menurut pendapat kami, tidak masalah opsi apa yang dipilih, kami siap untuk perang, diplomasi, dan opsi ekonomi. Kami telah hidup dengan sanksi selama bertahun-tahun, tetapi kami akan mengambil tindakan apa pun yang diperlukan untuk mencabut sanksi tersebut. Oleh karena itu, kami siap untuk semua opsi, tetapi kami berharap kebijaksanaan dan rasionalitas akan menang,” jelasnya.
Dikatakan, Iran tidak pernah menghindari negosiasi, tetapi negosiasi harus adil dan merata, dan berdasarkan kepentingan bersama. bukan hanya satu pihak yang mengharapkan semua keuntungan dan Negosiasi harus didasarkan pada rasa saling menghormati dan tanpa ancaman.
Dikatakan, beberapa gagasan yang sedang dipertimbangkan. Tetapi bersamaan dengan usulan-usulan ini, beberapa ancaman juga dilontarkan. Dan negosiasi serta ancaman tidak dapat digabungkan.
“Jika kita mencapai titik di mana negosiasi dilakukan tanpa ancaman dan paksaan, dan berdasarkan rasa saling menghormati dan kepentingan bersama dalam isu nuklir, kita siap untuk duduk di meja perundingan nuklir. Tetapi sejauh ini kami belum yakin bahwa AS menginginkan hal ini. Sayangnya, AS memiliki catatan buruk dalam bernegosiasi dengan kami,” ucapnya.
Terkait demontrasi, ia menjelaskan, Protes dan demonstrasi di Iran bukanlah hal yang aneh. Dalam sistem demokrasi mana pun, hak untuk melakukan demonstrasi damai dijamin. Konstitusi Iran juga secara eksplisit menyebutkan hak ini.
“Tetapi apa yang kita hadapi kali ini benar-benar berbeda,” katanya
Menurutnya, protes ini dan kemudian peristiwa yang mengikutinya dapat dibagi menjadi dua fase. Fase pertama adalah dari 28 Desember 2025 hingga 7 Januari 2026, yang merupakan demonstrasi damai untuk menyampaikan keluhan dan protes. Kemudian Perkembangan yang sangat penting terjadi dari tanggal 8 hingga 10 Januari, yaitu masuknya unsur-unsur teroris ke lokasi kejadian. Sel-sel teroris diorganisir dan dilatih, dan mereka memasuki kerumunan demonstran dengan senjata.
“Tiba-tiba, kami bertemu dengan orang-orang di antara para demonstran yang membawa senjata dan menembak polisi dan pasukan keamanan,” ungkap dia.
Dan Yang lebih penting dan aneh, orang-orang ini juga menembak para demonstran itu sendiri dan mencoba meningkatkan jumlah korban jiwa. karena pernyataan Presiden AS bahwa jika Iran menembak para demonstran, AS akan campur tangan.
“Rencana jahat ini dirancang di luar negeri dan diimplementasikan oleh agen-agen mereka di dalam negeri. Mereka mencoba memaksa Presiden AS untuk campur tangan dengan meningkatkan jumlah korban jiwa,” ucapnya.
Ditambahkan, setelah itu, terjadi perkembangan lain, yaitu terciptanya teror yang hanya pernah terjadi di Suriah oleh ISIS dan kelompok serupa. “Perilaku ini sama sekali tidak sesuai dengan budaya Iran. Mereka juga membakar masjid. Mustahil bagi seorang warga Iran untuk membakar masjid, karena budaya kita tidak mengizinkan tindakan seperti itu. Para teroris juga menembak orang-orang yang terluka. Mereka juga membakar tempat-tempat umum dan harta benda pribadi warga,” sebut dia.
Ia menegaskan, perintah kepada elemen teroris datang dari luar negeri. Beberapa percakapan telah direkam. Mereka diperintahkan untuk menembak pasukan polisi dan jika tidak ada pasukan polisi, untuk menembak para demonstran. Niat mereka adalah untuk menyebarkan pembunuhan.
Oleh karena itu, pasukan keamanan terpaksa turun tangan dan memutuskan untuk memutus internet. Karena alasan ini, komunikasi kelompok-kelompok teroris tersebut harus diputus dan koordinasi di antara mereka harus dicegah.
Ia mengatakan, Kebijakan kami terhadap protes adalah toleransi dan memperlakukan para demonstran dengan sabar dan tenang serta mendengarkan mereka. Tetapi kebijakan terhadap terorisme adalah sikap tegas.
“Kami tidak akan pernah mengizinkan agen teroris dan kelompok teroris, terutama yang dipimpin dari luar negeri dan terutama Israel, untuk melanjutkan aksi mereka,” jelasnya. (Using)















