Sumbawanews.com,- Babak 32 besar Piala Dunia 2026 telah dimulai, dan di antara deretan raksasa sepak bola dunia, tiga tim dengan peringkat FIFA terendah justru menjadi sorotan utama: Bosnia & Herzegovina (peringkat 61), Cape Verde (64), dan Ghana (65). Ketiganya tak hanya lolos dari fase grup, tetapi juga berhasil menembus babak gugur—mengalahkan ekspektasi dan mengguncang hierarki tradisional turnamen ini.
Bosnia & Herzegovina, yang pernah meraih gelar juara Piala Dunia U-20 pada 1987, kembali menunjukkan semangat juangnya dengan menghadapi tuan rumah Amerika Serikat di laga pertama mereka di babak gugur. Dengan dukungan suporter lokal yang memadati stadion, tim asuhan pelatih Džemaludin Mušović harus mengandalkan disiplin taktis dan serangan balik cepat untuk mengimbangi keunggulan materi dan atmosfer kandang lawan.
Di sisi lain, Cape Verde—negara kepulauan kecil di Afrika Barat dengan populasi tak lebih dari 500 ribu jiwa—berhadapan dengan juara bertahan Argentina. Meski secara statistik jauh di bawah tim Tango, tim berjuluk “Tubarões do Atlântico” ini dikenal memiliki pertahanan ketat dan kemampuan bertahan luar biasa. Strategi mereka diperkirakan akan berfokus pada mempertahankan garis belakang rapat, sambil menunggu kesempatan emas dari set-piece atau serangan balik mematikan yang kerap menjadi senjata andalan mereka di turnamen besar.
Sementara itu, Ghana, yang pernah meraih peringkat empat di Piala Dunia 2010, kembali menunjukkan ketangguhannya dengan mengalahkan tim-tim lebih diunggulkan di fase grup. Di babak 32 besar, mereka akan menghadapi Kolombia, tim yang baru saja mengejutkan Portugal untuk menjadi juara grup. Laga ini menjadi ujian mental bagi Black Stars: apakah mereka bisa memanfaatkan kecepatan dan kegigihan lini depannya untuk menaklukkan pertahanan Kolombia yang tangguh, atau justru menjadi korban dari kepiawaian teknis para pemain Andin.
Ketiga tim ini bukan sekadar kejutan—mereka adalah simbol dari semangat Piala Dunia yang sesungguhnya: di mana ukuran populasi, anggaran, atau peringkat FIFA tak selalu menentukan takdir. Di balik ketiganya, ada kerja keras pemain-pemain profesional yang berkiprah di liga-liga minor, didukung oleh jutaan suporter yang menatap layar dengan harapan yang sama besar seperti fans Brasil atau Jerman.
Dengan satu kesalahan berarti eliminasi, setiap detik di pertandingan mereka menjadi berharga. Dan di tengah hiruk-pikuk bintang-bintang besar, justru ketigalah yang mungkin akan menyimpan cerita paling mengharukan dari Piala Dunia 2026.















