Sumbawanews.com,- UEFA resmi menjatuhkan sanksi kepada 43 klub Eropa atas pelanggaran aturan Financial Fair Play (FFP) pada 30 Juni 2026, menjelang penutupan musim kompetisi 2025-2026. Di antara yang paling mencolok adalah Juventus dan Chelsea, yang masing-masing dikenai denda hingga puluhan juta euro akibat ketidaksesuaian laporan keuangan selama periode 2023 hingga 2025.
Juventus, yang tampil di Liga Europa musim lalu, dihukum dengan total denda 20 juta euro. Sebanyak 6 juta euro dibayar langsung, sementara 14 juta euro lainnya bersifat kondisional—akan jatuh jika klub gagal memenuhi target keuangan yang ditetapkan hingga akhir musim 2028-2029. Klub asal Turin juga menghadapi pembatasan kuota pemain yang dapat didaftarkan untuk ajang Eropa jika melanggar kesepakatan tersebut.
Chelsea, yang tidak tampil di kompetisi Eropa musim 2025-2026, dikenai denda 3 juta euro terkait pelanggaran rasio biaya skuad. Klub asal London ini dianggap menghabiskan lebih dari 70% pendapatan tahun 2025 untuk gaji pemain, pelatih, dan biaya agen—melampaui ambang batas FFP. Denda ini termasuk ringan dibandingkan beberapa klub lain, karena sebagian besar pelanggaran mereka terkait pengeluaran jangka pendek yang tidak berkelanjutan.
Aston Villa mendapat sanksi lebih berat: total 22,5 juta euro, dengan 15 juta euro ditangguhkan. Sementara Newcastle United, yang sudah mengalami sanksi serupa sebelumnya, kembali dikenai denda 10 juta euro—7 juta euro di antaranya bersyarat. Klub asal Inggris Timur itu juga wajib memenuhi target surplus keuangan hingga 2029, atau menghadapi pembatasan ketat pada pendaftaran pemain di kompetisi Benua Biru.
Di luar Inggris, Strasbourg menjadi klub dengan denda terbesar: 25 juta euro, dengan 12 juta euro bersifat kondisional. Fiorentina denda 6 juta euro, Fenerbahçe 7 juta euro, dan AEK Athens 500 ribu euro. Sanksi juga diberikan kepada OGC Nice, Santa Clara, FC Astana, FK Partizan, dan RC Strasbourg—semua dihukum karena ketidakpatuhan terhadap aturan keseimbangan keuangan selama tiga tahun terakhir.
UEFA menegaskan bahwa hukuman ini bukan sekadar denda, melainkan upaya sistematis untuk menjaga kesehatan finansial sepak bola Eropa. Klub-kub yang melanggar tidak hanya dikenai sanksi uang, tetapi juga pembatasan operasional, termasuk kuota pemain, larangan pengeluaran berlebihan, dan pemantauan ketat laporan keuangan jangka panjang.
Pengumuman ini dirilis satu hari setelah penutupan musim kompetisi 2025-2026, sekaligus menjadi awal dari tahun keuangan baru 2026-2027. Dengan demikian, semua klub Eropa kini berada di bawah tekanan lebih besar untuk mengelola keuangan secara berkelanjutan—bukan hanya untuk meraih trofi, tapi juga untuk bertahan di kancah Eropa.















