Sumbawanews.com,- Los Angeles – Laga sengit antara Belgia dan Iran berakhir tanpa gol dalam laga matchday kedua Grup G Piala Dunia 2026 di Los Angeles Stadium. Kedua tim, meski bermain dengan dinamika berbeda, gagal memecah kebuntuan hingga peluit panjang berbunyi, hasil akhir 0-0 menjadi pencerminan dari pertandingan yang penuh kegagalan peluang dan keputusan kontroversial.
Iran sempat unggul di menit ke-25 lewat gol Mehdi Taremi dari umpan tendangan bebas Ehsan Hajsafi. Namun, kegembiraan tim Melli segera pupus setelah VAR mengonfirmasi posisi offside Taremi saat menerima bola. Gol yang seharusnya membangkitkan semangat Iran pun dianulir, dan skor tetap 0-0 hingga turun minum.
Di babak kedua, Belgia berusaha menggempur pertahanan Iran yang bertahan rapat. Kevin de Bruyne, Romelu Lukaku, dan Maxim De Cuyper berkali-kali mengancam gawang Alireza Beiranvand, tetapi kiper Iran tampil luar biasa. Penyelamatan tangan tunggal Beiranvand menepis tap-in De Cuyper di menit ke-58 menjadi momen paling menentukan.
Ketegangan bertambah di menit ke-66 ketika bek Belgia, Nathan Ngoy, menerima kartu merah langsung setelah menarik jatuh Taremi dari belakang. Belgia pun bermain dengan 10 pemain, memberi Iran peluang emas untuk merebut kemenangan. Namun, meski unggul jumlah pemain selama 24 menit tersisa, Iran gagal memanfaatkannya. Serangan mereka terlalu mudah dibaca, dan kekurangan kreativitas di lini depan menjadi penghambat utama.
Belgia, meski kehilangan satu pemain, tetap bertahan disiplin. Pertahanan yang terorganisir, ditunjang kinerja kiper Thibaut Courtois yang tenang, mampu menahan tekanan Iran hingga akhir laga.
Hasil ini membuat kedua tim sama-sama mengumpulkan dua poin dari dua laga. Iran tetap memimpin klasemen Grup G dengan selisih gol lebih baik, sementara Belgia tertinggal satu peringkat meski memiliki poin sama. Kedua tim kini menatap laga terakhir dengan tekanan tinggi: Iran harus menghindari kekalahan dari New Zealand, sementara Belgia wajib menang atas Mesir untuk tetap bertahan di perburuan babak gugur.
Dalam susunan pemain, Belgia menurunkan formasi 4-3-3 dengan Lukaku sebagai ujung tombak, didukung De Bruyne dan Trossard di sayap. Iran memilih formasi 4-2-3-1 dengan Taremi sebagai pusat serangan, didampingi Ghoddos dan Nemati di belakangnya.
Pertandingan ini bukan hanya soal hasil, tapi juga tentang ketahanan mental. Belgia yang kehilangan satu pemain tetap bertahan tanpa kepanikan, sementara Iran yang unggul jumlah pemain gagal menunjukkan keunggulan taktis. Dua tim yang pernah menjadi kekuatan besar di pentas dunia, kini berjuang keras untuk tetap relevan di era baru sepak bola.
Dengan dua laga berlalu, Grup G menjadi salah satu grup paling terbuka di Piala Dunia 2026. Siapa yang akan melaju? Jawabannya mungkin baru akan terungkap di laga terakhir.















