Home Berita Olah Raga Belanda Gagal di Piala Dunia 2026, Justin Kluivert Alami Nasib Seperti Ayahnya

Belanda Gagal di Piala Dunia 2026, Justin Kluivert Alami Nasib Seperti Ayahnya

Sumbawanews.com,- Timnas Belanda resmi tersingkir dari Piala Dunia 2026 setelah dikalahkan Maroko lewat adu penalti 3-2 pada babak 32 besar, Selasa (30/6/2026) dini hari WIB. Kekalahan dramatis itu tak hanya menutup mimpi De Oranje untuk melangkah lebih jauh, tetapi juga memicu gelombang serangan kejam terhadap tiga pemain yang gagal mengeksekusi penalti: Justin Kluivert, Quinten Timber, dan Crysencio Summerville.

Ketiganya dipercaya Ronald Koeman sebagai algojo dalam sesi penentu nasib. Namun, semua tendangan mereka gagal—sebuah kegagalan yang langsung menjadi bahan amukan di media sosial. Ribuan komentar penuh kebencian, bahkan bernuansa rasisme, membanjiri akun Instagram mereka. Dalam waktu singkat, ketiga pemain itu memilih menonaktifkan fitur komentar demi melindungi diri dari tekanan psikologis yang tak tertahankan.

Kisah ini mengingatkan pada ayah Justin, Patrick Kluivert. Pada masa lalu, saat peran sebagai pelatih tim nasional Indonesia gagal membawa tim meraih tiket Piala Dunia 2026, akun Instagram Patrick juga menjadi sasaran serangan serupa—hinaan, cacian, dan ujaran kebencian yang tak kenal batas. Ia pun memilih menutup kolom komentar, bukan karena lemah, tapi karena memilih menjaga kemanusiaan di tengah kegagalan olahraga.

Kegagalan Belanda ini semakin menyakitkan mengingat tim ini datang sebagai salah satu favorit juara. Dengan kekuatan skuad yang diisi bintang-bintang seperti Virgil van Dijk dan Cody Gakpo—yang bahkan menangis usai mencetak gol karena baru kehilangan calon anaknya—kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi harapan sepak bola Eropa.

Sementara itu, Maroko, tim yang dijuluki Atlas Lions, kembali menunjukkan ketangguhan mental. Dengan taktik disiplin dan keberanian luar biasa, mereka mengejutkan dunia dengan menyingkirkan salah satu raksasa Eropa, dan melangkah ke babak 16 besar sebagai tim yang pantas diakui kehebatannya.

Justin Kluivert, yang sejak awal menjadi sorotan sebagai putra legenda, kini harus menanggung beban lebih berat: bukan hanya kegagalan di lapangan, tapi juga menjadi simbol dari kekejaman fanatisme yang tak mengenal empati. Di tengah hujan kritik, ia memilih diam—seperti ayahnya dulu—karena kadang, keheningan adalah bentuk keberanian yang paling sulit.

Previous articleJerman Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Nagelsmann: Kita Bukan Lagi Kekuatan Elite
Next articleJerman Tersingkir, Mentalitas Juang Jadi Tanda Tanya