Sumbawanews.com,- Di tengah kejaran polisi yang semakin ketat, Taufik Hidayat (30) akhirnya memutuskan menyerahkan diri—bukan karena takut, tapi karena sebuah percakapan sederhana yang menggugah hati. Mantan rekan kerjanya, Dadang Ahyar Ismail, menjadi penentu takdirnya. Bukan dengan ancaman, tapi dengan kejujuran yang menusuk: “Kamu kalau lari-lari, sampai kakek-kakek pasti capek. Di medsos sudah ramai, bisa saja kamu ketangkap warga dan mati di jalan. Atau ketangkap polisi, kayak di TV—ditembak. Pilih yang mana?”
Percakapan itu terjadi beberapa jam sebelum Taufik muncul di rumah Dadang, di kawasan Bandung Raya. Tanpa perlawanan, tanpa kejar-kejaran, ia datang sendiri. Dadang yang pernah bekerja bersamanya sebagai penagih utang pada 2023–2024, langsung menghubungi petugas kepolisian. “Saya bilang, ‘Kamu harus jantan. Pertanggungjawabkan perbuatanmu.’ Dia diam lama. Lalu bilang, ‘Ya sudah Pak, saya ikut Bapak. Saya mau menyerahkan diri.’”
Keesokan harinya, Taufik dibawa ke Polsek Majalaya sebelum akhirnya diserahkan ke Polda Jawa Barat. Ia kini ditetapkan sebagai tersangka kasus penyekapan dan penganiayaan berat terhadap kekasihnya, Yuvita Tri Rezeki (29), yang selama tiga tahun dikurung di sebuah kamar indekos di Cileunyi, Kabupaten Bandung. Korban mengalami luka serius di kepala, wajah, dan kaki—hingga tak bisa berjalan, berbicara, atau melihat secara normal. Taufik dijerat Pasal 466 dan 446 KUHP tentang kekerasan dalam rumah tangga dan penganiayaan berat.
Namun, Polda Jabar membantah klaim bahwa Taufik menyerahkan diri secara sukarela. Kabid Humas Kombes Pol Hendra Rochmawan tegas menyatakan, pelaku ditangkap oleh tim operasional di sekitar Bandung Raya. “Bukan menyerahkan diri. Ini hasil pengejaran dan koordinasi lintas satuan,” ujar Hendra. Meski demikian, Dadang tetap akan diperiksa sebagai saksi kunci—karena perannya dianggap strategis dalam menghentikan pelarian Taufik.
Dadang mengaku tak pernah melihat sisi gelap Taufik selama bekerja bersama. “Dia biasa saja. Tidak ada yang mencurigakan. Bekerja masing-masing, tidak pernah kasar atau aneh.” Ia hanya mendengar cerita singkat tentang hubungan Taufik dengan Yuvita: mereka tinggal serumah karena cinta, bahkan korban sampai memasang tato sebagai simbol kesetiaan. “Saya tidak tahu tato apa. Itu cuma cerita dari Taufik.”
Sementara itu, keluarga korban menuntut hukuman seberat-beratnya. Mereka menilai, tindakan Taufik bukan sekadar kekerasan, tapi pembunuhan perlahan terhadap manusia yang pernah dicintainya. Di balik keputusan Taufik untuk berhenti lari, tersimpan satu pertanyaan besar: apakah nasihat seorang teman lama bisa lebih kuat daripada hukum? Atau justru, jalan kembali ke kebenaran baru bisa ditemukan ketika seseorang dipaksa melihat bayangan dirinya di mata orang lain?















