Sumbawanews.com,- Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Wihaji, mengungkapkan bahwa rasa malu dan penyangkalan dari keluarga serta pemerintah daerah menjadi penghambat utama dalam upaya penanganan stunting. Banyak keluarga enggan membawa anak ke posyandu karena takut dianggap sebagai keluarga berisiko stunting, sementara sejumlah pemerintah daerah menyangkal tingginya angka kasus di wilayahnya demi menghindari stigma. Wihaji menekankan bahwa pemulihan anak yang sudah mengalami stunting sangat sulit, dengan hanya 20% kasus yang bisa disembuhkan. Selain itu, keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar seperti air bersih memperlambat intervensi di lapangan. Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah terus memperkuat edukasi berkelanjutan oleh petugas kesehatan di tingkat akar rumput agar masyarakat lebih terbuka dan responsif terhadap upaya pencegahan.















