Sumbawanews.com,- Air mata Nadia Putri Muda Paramita tak bisa dibendung saat layar laptopnya tiba-tiba gelap, tinggal 15 menit lagi sebelum ujian Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat SD selesai. Siswi kelas 5 SDN Gandasoli, Kecamatan Cireunghas, Kabupaten Sukabumi, itu telah berjuang selama enam bulan penuh untuk meraih mimpi: menjadi diplomat dan membahagiakan orang tuanya. Namun, impian itu runtuh bukan karena soal yang terlalu sulit, tapi karena listrik rumahnya padam tanpa peringatan.
Insiden itu terjadi pada Senin, 8 Juni 2026, pukul 13.45 WIB, saat Nadia sedang mengerjakan sesi terakhir ujian daring. Sebelumnya, ujian berjalan lancar dari pukul 08.00 hingga 13.00. Namun, saat ia hampir menyelesaikan 40 dari 60 soal, aliran listrik tiba-tiba terputus. Laptopnya mati, koneksi terputus, dan waktu terus berjalan tanpa ampun.
“Awalnya saya kira cuma sebentar, tapi pas lihat sisa waktu tinggal 15 menit, saya panik. Semua persiapan berbulan-bulan, tiba-tiba hilang begitu saja,” ujar Nadia, suaranya bergetar saat menceritakan kejadian itu kepada pengawas ujian, Isop Sopiah.
Isop, yang bertugas sebagai pengawas di sekolah tersebut, mengatakan pihak sekolah sempat berharap listrik segera menyala kembali. Mereka menahan siswa di ruang kelas selama tiga jam—tapi tidak ada tanda-tanda listrik akan kembali. Tanpa cadangan daya, tanpa informasi dari PLN, tanpa alternatif teknis, satu-satunya pilihan adalah menutup laptop dan memulangkan siswa.
“Kami tidak diberi tahu sebelumnya tentang pemadaman. Tidak ada surat, tidak ada notifikasi. Bagaimana mungkin kami siap?” kata Isop, yang menyebut kejadian ini sebagai kegagalan sistemik, bukan hanya kebetulan teknis.
Nadia bukan satu-satunya yang terdampak. Namun, ia menjadi simbol dari ribuan anak di daerah terpencil yang berjuang keras untuk mengejar pendidikan berkualitas, sementara infrastruktur dasar—listrik, koneksi internet, dan komunikasi—masih rapuh. Di tengah upaya pemerintah mendorong prestasi akademik melalui OSN, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa akses yang adil masih jauh dari sempurna.
Meski sudah berusaha ikhlas, Nadia masih berharap panitia pusat OSN memberikan kesempatan ujian ulang. “Saya nggak minta khusus. Saya cuma minta keadilan. Kalau listrik padam, kan bukan salah saya. Harusnya ada sistem darurat, atau pemberitahuan dulu,” ujarnya.
Kisah Nadia kini menjadi sorotan nasional. Bukan hanya karena kesedihannya, tapi karena ia mewakili ketidakadilan sistemik yang sering kali disembunyikan di balik angka-angka prestasi. Di satu sisi, anak-anak seperti Nadia berlari sekuat tenaga. Di sisi lain, jalan yang mereka lalui masih penuh lubang—dan tak ada yang memperbaikinya sebelum mereka jatuh.

















