Sumbawanews.com,- Meski dijanjikan bisa mengurangi beban kerja, penggunaan kecerdasan buatan justru mendorong sejumlah karyawan teknologi di perusahaan besar seperti OpenAI, Anthropic, dan Meta bekerja hingga 90 jam dalam seminggu. Laporan BBC mengungkapkan bahwa para pekerja di balik pengembangan AI tidak mendapat waktu istirahat yang memadai, melainkan dihadapkan pada periode “sprint” berkelanjutan—kerja panjang berturut-turut selama berminggu-minggu menjelang peluncuran produk, seringkali hingga larut malam dan akhir pekan. Di Meta, karyawan bahkan dipaksa pindah ke tim AI tanpa pilihan, dengan ancaman pengunduran diri jika menolak. Seorang mantan karyawan Google, Amin Shali, mengaku kesehatannya membaik setelah keluar dari perusahaan karena tekanan kerja yang ekstrem.
Studi dari UC Berkeley selama delapan bulan menemukan bahwa AI tidak mengurangi jam kerja, melainkan memperluas tanggung jawab karyawan dan mendorong mereka untuk terus memeriksa hasil kerja AI secara konstan. Pakar inovasi dari MIT, Neil Thompson, menjelaskan bahwa waktu yang dihemat oleh AI justru diserap oleh tuntutan baru yang muncul, ditambah tekanan untuk membuktikan kontribusi diri di mata perusahaan. Kondisi ini menciptakan budaya kerja yang melelahkan, bertentangan dengan prediksi sebelumnya bahwa AI akan memperkenalkan empat hari kerja per minggu.















