Sumbawanews.com,- Meninggal di usia 76 tahun pada Ahad, 31 Mei 2026, di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta, Jenderal TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu pergi meninggalkan jejak yang tak hanya berupa tanda pangkat atau jabatan, tapi sebuah komitmen tak tergoyahkan pada nilai-nilai kebangsaan. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyebutnya sebagai sosok yang konsisten menjaga persatuan bangsa—bukan hanya dalam ruang rapat atau upacara militer, tapi lewat silaturahmi, dialog, dan kehadiran nyata di tengah keragaman.
Sejak menjabat sebagai Menteri Pertahanan periode 2014–2019 hingga masa purnawirawannya, Ryamizard dikenal tak pernah memilih sisi. Ia datang ke Muhammadiyah, bertemu dengan tokoh agama, berdialog dengan organisasi kemasyarakatan, bahkan tak segan duduk bersama kelompok yang berbeda pandangan. “Beliau percaya, persatuan bukanlah hasil dari kebijakan, tapi proses yang dibangun lewat kepercayaan,” ujar Haedar dalam pernyataannya, Ahad malam.
Bukan sekadar simbolis, kehadirannya di berbagai forum kebangsaan—dari pesantren hingga kampus—menjadi bukti bahwa ia memahami bahwa ancaman terhadap NKRI tak selalu datang dari luar. Ia tahu, retakan paling berbahaya lahir dari ketidakpercayaan antar kelompok. Maka, ia memilih menjadi jembatan. Dalam sejumlah kesempatan, ia membuka ruang dialog tentang radikalisme, keadilan sosial, hingga peran militer dalam demokrasi, tanpa mengorbankan integritas sebagai prajurit.
Haedar mengingat, Ryamizard kerap datang ke kantor PP Muhammadiyah bukan sebagai pejabat yang ingin “dipuji”, tapi sebagai warga negara yang ingin “mendengar”. Ia bertanya, bukan hanya memberi perintah. Dalam diskusi soal pendidikan karakter atau penanganan konflik sosial, ia tak pernah menganggap dirinya paling tahu. Ia lebih suka mendengar, lalu merumuskan solusi bersama.
Dedikasinya pada keutuhan bangsa juga terlihat dalam kebijakan-kebijakan strategisnya sebagai Menhan. Ia mendorong modernisasi alutsista bukan hanya untuk kekuatan militer, tapi sebagai bentuk kedaulatan yang menjaga martabat bangsa. Ia menolak politisasi TNI, menegakkan netralitas institusi, dan memperkuat hubungan dengan aparat keamanan sipil—semua demi menjaga agar militer tetap menjadi alat pemersatu, bukan pemecah.
Ketika isu-isu sensitif muncul—mulai dari penanganan terorisme hingga keberadaan kelompok radikal—Ryamizard selalu menekankan pendekatan hukum dan dialog, bukan represi semata. Ia pernah menyatakan, “Kita tidak bisa membasmi radikalisme dengan senjata saja. Kita harus membangun ketahanan ideologi di hati rakyat.”
Kini, jenazahnya akan dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta, pada Senin, 1 Juni 2026. Upacara pemakaman yang dihadiri oleh pejabat tinggi negara, tokoh agama, dan mantan rekan sejawat itu bukan sekadar penghormatan terakhir, tapi pengakuan bahwa ia bukan hanya prajurit, tapi penjaga jiwa bangsa.
Haedar Nashir berdoa, semoga almarhum diterima di sisi Allah SWT dengan rahmat dan kasih sayang-Nya. “Ia meninggalkan warisan yang tak ternilai: bahwa menjadi bangsa yang kuat bukan soal berapa banyak senjata, tapi seberapa dalam kita saling percaya.”
Dan dalam keheningan malam yang menyelimuti Jakarta, banyak yang berpikir: siapa lagi yang akan menggantikan perannya?















