Sumbawanews.com,- Jakarta — Kementerian Perindustrian menargetkan porsi ekspor produk manufaktur nasional meningkat dari 20 persen menjadi 30 persen dalam lima tahun ke depan, tanpa mengorbankan kebutuhan pasar domestik yang masih menjadi tulang punggung pertumbuhan industri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan, saat ini sekitar 80 persen produk industri dalam negeri dipasarkan di dalam negeri, sementara 20 persen lainnya menembus pasar global. Target baru ini, kata dia, bukan berarti mengurangi fokus pada konsumen lokal, melainkan memperkuat daya saing industri yang berorientasi ekspor agar mampu menembus pasar internasional secara berkelanjutan.
“Pasar domestik tetap menjadi fondasi utama. Tapi kita harus mendorong industri yang bisa tumbuh dan bersaing di kancah global. Ini soal ketahanan ekonomi dan diversifikasi pendapatan,” ujar Agus di Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, sektor industri pengolahan pada triwulan I 2026 tumbuh 5,04 persen dan menyumbang 19,07 persen terhadap PDB nasional, atau senilai Rp1.179,62 triliun. Dari sisi investasi, industri pengolahan menyedot Rp182,04 triliun—36,49 persen dari total investasi nasional. Sementara itu, ekspor produk industri pengolahan pada Januari–April 2026 mencapai US$75,57 miliar, atau menyumbang 82,01 persen dari total ekspor Indonesia.
Untuk mewujudkan target ekspor 30 persen, Kemenperin menggencarkan sejumlah strategi. Di antaranya pemberian insentif fiskal dan nonfiskal, pengendalian impor secara terukur, serta penguatan perlindungan industri dalam negeri melalui instrumen perdagangan yang adil. Selain itu, pemerintah juga memperluas penerapan *Local Currency Settlement* (LCS) dalam transaksi perdagangan internasional, yang telah direkomendasikan sejak 2023 untuk mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar dan meningkatkan efisiensi transaksi.
“LCS bukan sekadar respons terhadap tekanan rupiah. Ini langkah strategis untuk membangun ketahanan sistem perdagangan kita dari akar,” tegas Agus.
Program prioritas lainnya mencakup hilirisasi industri, penguatan industri kecil dan menengah (IKM), pembangunan SDM industri, transformasi hijau, serta penerapan teknologi digital untuk meningkatkan produktivitas. Sejumlah sektor strategis seperti keramik, furnitur, dan otomotif telah menjadi fokus utama dalam upaya meningkatkan nilai tambah dan daya saing ekspor.
Agus optimistis target ini dapat tercapai mengingat momentum pertumbuhan industri yang kuat, didukung oleh basis produksi yang semakin matang dan kebijakan yang terkoordinasi antar kementerian. “Kita tidak hanya ingin menjual lebih banyak, tapi menjual lebih baik—dengan kualitas, inovasi, dan keberlanjutan,” katanya.
Dengan strategi ini, Indonesia berambisi tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga produsen global yang diakui dalam rantai pasok internasional.

















