Sumbawanews.com,- Ratusan drone berterbangan di atas Candi Borobudur pada malam Waisak 2570 BE/2026, membentuk rangkaian gambar hidup yang menggambarkan perjalanan spiritual Siddhartha Gautama — dari kelahiran hingga mencapai pencerahan tertinggi. Dalam pertunjukan spektakuler yang menarik ribuan umat Buddha dan wisatawan, 570 unit drone yang dikendalikan secara sinkron itu menghidupkan kembali ajaran-ajaran tertua umat Buddha dalam visualisasi cahaya yang memukau.
Pertunjukan ini menjadi puncak perayaan Waisak di kompleks Taman Wisata Candi Magelang, Jawa Tengah, yang tahun ini mengusung tema “Kesadaran dan Kedamaian dalam Kehidupan Modern.” Setiap formasi drone — mulai dari bayangan sang putra kerajaan yang meninggalkan istana, hingga sosok Buddha yang duduk dalam posisi meditasi di bawah pohon Bodhi — dibuat dengan presisi teknis yang luar biasa. Cahaya biru dan emas bergerak perlahan di langit malam, seolah-olah menerangi jalan menuju Nirwana.
Panitia penyelenggara, yang bekerja sama dengan tim teknologi lokal, menyatakan bahwa pertunjukan ini bukan sekadar atraksi visual, tetapi bentuk penghormatan terhadap warisan budaya dan spiritual yang telah mengakar selama lebih dari dua milenium. “Kami ingin membawa ajaran Buddha ke dalam era digital, tanpa mengurangi kedalaman maknanya,” ujar salah satu koordinator acara.
Di bawah cahaya drone yang bergerak harmonis, ribuan umat Buddha yang berkumpul di pelataran candi tampak diam, hening, dan terpukau. Beberapa di antaranya menangis pelan, sambil mengangkat tangan dalam posisi anjali. Di kejauhan, lampion-lampion emas pun berarak perlahan ke angkasa, menambah keindahan malam yang sudah penuh makna.
Pertunjukan ini mengikuti tradisi tahunan Waisak di Borobudur, yang sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat spiritual terbesar di dunia. Tahun ini, kehadiran drone menambah dimensi baru pada perayaan yang biasanya dipenuhi oleh chant mantram, prosesi memutar candi, dan upacara pemujaan di puncak stupa utama.
Tidak hanya menarik perhatian umat Buddha, aksi ini juga menjadi sorotan global. Banyak pengamat budaya memandangnya sebagai simbol harmoni antara teknologi dan spiritualitas — di mana alat modern digunakan bukan untuk menggantikan tradisi, tetapi untuk menyampaikannya dengan cara yang lebih hidup, lebih dekat dengan generasi baru.
Di tengah dunia yang sering dipenuhi kekacauan, malam itu, langit Borobudur menjadi canvas damai — tempat ribuan cahaya kecil, bukan senjata atau alat pengawas, tapi justru alat untuk mengingatkan manusia pada jalan ketenangan, kebijaksanaan, dan cinta tanpa syarat.















