Sumbawanews.com,- China resmi membuka kembali ekspor pupuk urea setelah sebelumnya memberlakukan pembatasan ketat untuk menjaga pasokan domestik. Langkah ini dinilai sebagai sinyal penting dalam upaya menstabilkan pasar pupuk global yang sempat terpuruk akibat gangguan rantai pasok, terutama di kawasan Timur Tengah.
Menurut laporan Reuters, pemerintah Tiongkok telah menerbitkan kuota ekspor baru untuk urea, yang langsung disambut oleh sejumlah produsen dalam negeri dan importir utama seperti India. Dua perusahaan pupuk besar di China mengonfirmasi telah menerima alokasi ekspor, sementara pihak-pihak di luar negeri pun melaporkan pemberitahuan resmi dari otoritas Beijing.
Kebijakan ini muncul di tengah krisis harga pupuk yang melonjak hingga 70 persen sejak awal tahun. Gangguan logistik akibat konflik di Selat Hormuz—jalur strategis pengiriman energi dan bahan baku industri—menghambat distribusi urea, pupuk nitrogen paling dominan dalam pertanian global. Akibatnya, petani di negara-negara pengimpor seperti India, Brasil, dan negara-negara Asia Tenggara mengalami tekanan biaya produksi yang berdampak pada ketahanan pangan.
China, yang merupakan salah satu eksportir urea terbesar di dunia, sebelumnya membatasi ekspor demi melindungi petani lokal dari kenaikan harga dalam negeri. Namun, dengan kondisi pasar global yang semakin kritis dan tekanan dari mitra dagang, Beijing kini memilih untuk menyeimbangkan kebutuhan domestik dengan tanggung jawab global.
Para analis memperkirakan, pembukaan kembali ekspor ini akan meredakan tekanan harga dalam beberapa minggu mendatang. Meski tidak serta-merta menyelesaikan seluruh masalah pasokan, langkah ini memberi ruang bagi pasar untuk kembali bernapas, terutama bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor pupuk.
Pertanian global, yang mengandalkan urea untuk meningkatkan produktivitas padi, jagung, dan gandum, kini menanti dampak nyata dari keputusan China. Jika ekspor berjalan lancar, krisis pupuk yang telah mengancam panen musim ini bisa berubah menjadi pelajaran strategis: bahwa ketahanan pangan tidak bisa dibangun dalam isolasi, melainkan melalui kerja sama lintas batas.















