Home Serba Serbi Tekno Monsun Australia Menguat, Suhu Ekstrem Melanda Sejumlah Wilayah

Monsun Australia Menguat, Suhu Ekstrem Melanda Sejumlah Wilayah

Sumbawanews.com,- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat penguatan signifikan Monsun Australia dalam beberapa hari terakhir, yang memperdalam kondisi kering di sebagian besar wilayah Indonesia. Angin timur yang membawa massa udara kering ini kini menjadi pemicu berkurangnya pembentukan awan, terutama pada pagi hingga siang hari, sehingga penyinaran matahari mencapai tingkat optimal—memicu lonjakan suhu udara maksimum hingga 36,4 derajat Celsius di sejumlah daerah.

Data BMKG per 1 Juni 2026 menunjukkan, wilayah Sumatera Utara, Riau, Papua Selatan, Banten, dan Sulawesi Tengah menjadi titik panas dengan suhu mencapai 35–36,4°C. Meski demikian, penguatan monsun ini belum mencapai level normalnya. Akibatnya, hujan masih tercatat di beberapa wilayah, terutama di bagian barat dan timur Nusantara.

Curah hujan tertinggi tercatat di Maluku dengan 102,5 mm/hari, diikuti Sulawesi Tengah (70,5 mm/hari) dan Jakarta (70,4 mm/hari) pada 30 Mei lalu—angka yang masuk kategori hujan lebat. Fenomena ini bukan semata hasil dari monsun, melainkan juga dorongan dinamika atmosfer lokal: Gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin aktif di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, hingga Papua, yang memicu pertumbuhan awan hujan meski dalam kondisi monsun kering.

Tak kalah penting, keberadaan Siklon Tropis Jangmi yang berkembang dari Bibit Siklon 99W di Laut Filipina utara Papua turut memengaruhi pola aliran udara di kawasan timur Indonesia. Sistem ini, meski tidak langsung menghantam, memberikan efek tidak langsung dengan meningkatkan potensi konveksi dan curah hujan di sekitar lintasannya.

Untuk sepekan ke depan, BMKG mempertahankan analisis bahwa kondisi El Niño di Samudra Pasifik masih mendominasi, cenderung menekan potensi curah hujan secara umum di Indonesia. Namun, dinamika regional tetap memberi ruang bagi hujan di wilayah utara dan timur. Madden-Julian Oscillation (MJO) diprediksi berada di fase 7–8, yang berarti minim pengaruh langsung terhadap cuaca Indonesia. Tapi, Gelombang Kelvin diperkirakan tetap aktif di pesisir utara Sumatera, selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan Barat, Sulawesi utara-tengah, Maluku Utara, hingga Papua Barat Daya.

Sementara itu, Gelombang Rossby Ekuatorial yang bergerak ke barat masih menjadi pendorong utama pertumbuhan awan hujan di Sumatera utara, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Timur, serta Kalimantan utara.

BMKG mengeluarkan peringatan dini: pada 2–4 Juni 2026, Jawa Barat berpotensi diguyur hujan lebat hingga sangat lebat. Sementara itu, pada 5–8 Juni, wilayah Papua Pegunungan menjadi fokus perhatian karena risiko hujan ekstrem yang bisa memicu banjir dan tanah longsor. Masyarakat diimbau tetap waspada, meski musim kemarau tampak menguat, karena kejadian hujan lebat tetap bisa terjadi secara lokal dan tak terduga.

Previous articleChina Buka Ekspor Urea, Pasokan Pupuk Dunia Mulai Membaik
Next articleOne Way di Puncak Dikendalikan Data Real-Time
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik