Sumbawanews.com,- Malam itu, 30 November 1957, halaman Perguruan Cikini di Jalan Cikini Raya, Jakarta, berubah jadi medan perang. Tawa anak-anak yang baru pulang sekolah, sorak-sorai para tamu yang merayakan ulang tahun yayasan, dan kehangatan Presiden Soekarno yang berbaur dengan murid-muridnya—semua runtuh dalam sekejap. Enam granat dilempar dari kegelapan jalan, meledak beruntun di tengah kerumunan. Asap pekat mengepul, serpihan logam menerjang, dan darah membasahi tanah yang sebelumnya dipenuhi keceriaan.
Tujuh orang tewas seketika—dua pengawal presiden, dan lima anak sekolah yang baru saja berlari mengejar kesempatan bersalaman dengan sang proklamator. Mobil Chrysler Crown Imperial, hadiah Raja Arab Saudi, hancur berantakan, ban pecah, kap mesin bolong. Soekarno selamat—bukan karena keberuntungan, tapi karena kecepatan dan keberanian para pengawalnya. Ajun Inspektur Polisi Sudio langsung menarik tubuh presiden ke tanah saat ledakan pertama meledak. Mayor Sudarto dan pasukan Kombes Mangil Martowidjojo membentuk perisai manusia, mengangkut Bung Karno ke paviliun terdekat. Ia hanya mengalami lecet di lengan, dan baju yang robek menjadi saksi bisu keheningan yang pecah menjadi kekacauan.
Korban terbanyak adalah anak-anak. Ribuan warga Jakarta yang menyaksikan kejadian itu terguncang. Media nasional membanjiri berita itu selama berminggu-minggu. Dalam waktu tiga hari, Komando Militer Kota Besar Djakarta Raya mengungkap pelakunya: empat pemuda lokal, bukan agen asing, tapi warga biasa yang tinggal di kontrakan tak jauh dari lokasi kejadian. Jusuf Ismail (24), Sa’adon bin Mohamad (18), Tasrif bin Hoesain (23), dan Mohamad Tasim bin Abubakar (22)—dua di antaranya adalah guru sekolah rakyat di kawasan Cikini. Mereka bukan ingin membunuh Soekarno, tapi memberi “peringatan keras”. Mereka gusar melihat kebangkitan Partai Komunis Indonesia pasca-Pemilu 1955, yang mereka anggap dibiarkan tumbuh oleh kebijakan politik sang presiden.
Dalam persidangan militer pada April 1958, motif politik itu terungkap jelas. Jusuf, Sa’adon, dan Tasrif dihukum mati dan dieksekusi pada 30 Mei 1960. Tasim, yang hanya menyimpan senjata, mendapat hukuman 20 tahun penjara. Sejarawan Asvi Warman Adam kemudian menyebut mereka sebagai “teroris generasi pertama” Indonesia—kelompok yang memilih kekerasan sebagai bentuk protes ideologis, bukan karena kepentingan pribadi atau kekuasaan.
Kini, 69 tahun kemudian, Perguruan Cikini tetap berdiri kokoh di lokasi yang sama. Gedung-gedungnya masih mempertahankan arsitektur kolonial: jendela tinggi berbingkai kayu, pilar-pilar tebal, dan dinding yang sengaja dirawat agar tak kehilangan jejak sejarahnya. Anak-anak masih berlarian di halaman yang sama, tapi kini dikelilingi pagar besi dan gerbang pengamanan yang tak pernah ada di masa lalu.
Hanya satu hal yang hilang: monumen kecil yang pernah berdiri di dekat pagar sekolah, mengenang para korban. “Dinas terkait meminta menghapusnya,” kata Ridwan, petugas keamanan yang telah bekerja di sana selama puluhan tahun. “Karena korban banyak anak-anak. Tak ingin trauma itu terus diingatkan, terutama bagi yang masih hidup.”
Tak ada plakat, tak ada patung, tak ada nama-nama yang terukir. Hanya kenangan yang tersimpan dalam hati para saksi, dalam catatan sejarah yang tak pernah dihapus, dan dalam diamnya bangunan tua yang tetap berdiri—sebagai pengingat bahwa kekerasan, meski bersembunyi di balik ideologi, selalu membunuh yang paling tak bersalah: masa depan.
Dan di balik semua itu, nama Soekarno tetap melekat: bukan hanya sebagai presiden yang selamat, tapi sebagai ayah yang kehilangan keceriaan di halaman sekolah anak-anaknya—dan sebagai simbol bangsa yang terus berjalan, meski di belakangnya terdengar dentuman granat yang tak pernah benar-benar reda.

















