Home Berita Internasional Wapres AS: Damai dengan Iran Hampir Terwujud

Wapres AS: Damai dengan Iran Hampir Terwujud

Sumbawanews.com,- Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyatakan bahwa kesepakatan damai antara Washington dan Teheran kini berada di ambang keberhasilan, meski belum final. Dalam wawancara eksklusif, Vance mengakui bahwa kedua pihak telah mencapai kemajuan signifikan dalam negosiasi, tetapi sejumlah poin krusial—terutama terkait pengayaan uranium dan pengelolaan stok nuklir Iran—masih menjadi titik perdebatan.

Meski Presiden Donald Trump dikabarkan telah menerima rancangan kesepakatan berbasis 14 poin, ia belum memberikan persetujuan resmi. Sebaliknya, pihak Iran melalui kantor berita Tasnim menegaskan bahwa tidak ada kesepakatan yang telah ditandatangani atau dikonfirmasi. Ketidaksesuaian narasi ini mencerminkan betapa rapuhnya kepercayaan antara kedua negara, meski keinginan untuk mengakhiri konflik semakin terasa.

Kesepakatan yang sedang digodok berpotensi memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari, sekaligus membuka pintu bagi pembicaraan mendalam mengenai masa depan program nuklir Iran. AS menuntut Iran menghentikan produksi uranium diperkaya tingkat tinggi dan menghilangkan stok yang ada—langkah yang secara teoritis dapat mempercepat pembuatan senjata nuklir. Sementara itu, Iran meminta pencabutan blokade maritim AS terhadap pelabuhan-pelabuhannya, penarikan pasukan AS dari wilayah sekitar, serta pemulihan lalu lintas bebas melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan seperlima pasokan minyak global.

Dalam perkembangan terbaru, AS bersiap memberikan pengecualian sanksi yang memungkinkan Iran kembali mengekspor minyak, sekaligus membiarkan Teheran membersihkan ranjau laut di Selat Hormuz dalam waktu 30 hari. Namun, Gedung Putih membantah keras laporan bahwa rancangan memorandum tersebut telah disepakati, menyebutnya sebagai “rekayasa sepenuhnya” dari pihak Iran.

Vance menekankan bahwa negosiasi berlangsung dengan itikad baik, meski insiden kecil terus mengganggu. Pada Kamis lalu, Iran mengklaim telah menembak jatuh drone AS dan menargetkan pangkalan militer AS di Kuwait. Namun, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) membantah tegas laporan itu, menegaskan semua aset udara mereka dalam keadaan aman dan terkonfirmasi.

Di Washington, Menteri Keuangan Scott Bessent menegaskan bahwa segala keputusan akhir tetap berada di tangan Presiden Trump. “Selalu salah untuk mendahului keputusan presiden,” katanya. “Kita harus mencapai kesepakatan terlebih dahulu sebelum membahas hal lainnya—termasuk rekonstruksi atau bantuan ekonomi.”

Sementara itu, pasar global merespons dengan waspada. Harga minyak dunia merosot usai kabar gencatan senjata, sementara harga bitcoin melonjak karena kekhawatiran akan eskalasi kembali konflik. Di belakang layar, para diplomat kedua negara terus bekerja tanpa henti, mengupayakan kesepakatan yang bisa bertahan lebih lama dari sekadar jeda sementara.

Dengan tekanan politik yang semakin kuat—dari sekutu Teluk, oposisi Demokrat, hingga anggota Partai Republik di Kongres yang mengkhawatirkan durasi perang—AS dan Iran kini berada di persimpangan jalan: apakah akan memilih jalan damai yang rapuh, atau kembali ke jurang konflik yang sudah lama menghantui kawasan. Untuk saat ini, dunia menahan napas. Karena dalam politik internasional, keheningan seringkali lebih berbicara daripada suara.

Previous articlePutin Tak Akan Berhenti, Hanya Ada Dua Pilihan: Eskalasi atau Runtuh
Next articleChatGPT Down Global, OpenAI Masih Selidiki Akar Masalah
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik