Home Berita Internasional Putin Tak Akan Berhenti, Hanya Ada Dua Pilihan: Eskalasi atau Runtuh

Putin Tak Akan Berhenti, Hanya Ada Dua Pilihan: Eskalasi atau Runtuh

Sumbawanews.com,- Mantan Perdana Menteri Ukraina Arseniy Yatsenyuk memperingatkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin tidak akan pernah memilih jalan damai—jika ia menganggap eskalasi adalah satu-satunya cara bertahan. Dalam wawancara eksklusif dengan Euronews, Yatsenyuk menegaskan bahwa Putin bukan sekadar pemimpin otoriter, tapi seorang agen KGB yang menjalani strategi jangka panjang dengan keteguhan ideologis dan kekejaman yang terukur.

“Jangan remehkan penjahat perang ini. Ia bukan orang bodoh. Ia adalah agen KGB—dan itulah yang membuatnya berbahaya,” tegas Yatsenyuk, mengingatkan dunia bahwa latar belakang intelijen Putin membentuk cara berpikirnya yang dingin, kalkulatif, dan tak mengenal kompromi.

Ia menunjuk pada rangkaian aksi agresif Moskow sejak 2014: pencaplokan Krimea, dukungan terhadap separatis di Donbas, hingga invasi skala penuh pada Februari 2022 yang bertujuan merebut Kyiv dalam tiga hari. “Mereka gagal merebut ibu kota, tapi tidak gagal menghancurkan 1,5 juta tentara Rusia—dan itu hanya permulaan,” ujarnya.

Menurut Yatsenyuk, tekanan ekonomi yang kini melanda Rusia—akibat sanksi global, penurunan pendapatan minyak, dan isolasi keuangan—tidak membuat Putin lemah. Sebaliknya, ia semakin terdorong untuk memperdalam konflik. “Ketika seseorang kehilangan semua, ia akan bermain lebih gila. Ini bukan soal wilayah lagi. Ini soal kelangsungan hidupnya sebagai pemimpin—dan sebagai manusia.”

Yatsenyuk menekankan bahwa Putin tidak lagi berperang hanya untuk Ukraina. Ia melihat konflik ini sebagai bagian dari perang lebih luas melawan Barat, dengan China sebagai mitra strategis yang tak bisa diabaikan. “Eropa harus sadar: ini bukan perang Rusia-Ukraina. Ini adalah poros kejahatan—dengan Moskow sebagai palu, dan Beijing sebagai landasan.”

Ia menolak harapan bahwa diplomasi Uni Eropa bisa membuka jalur negosiasi dengan Kremlin. “Putin tidak berbicara dengan utusan. Ia berbicara dengan kekuatan. Dan kekuatan itu, saat ini, adalah senjata, rudal, dan ketahanan politiknya sendiri.”

Dengan ekonomi yang terus terpuruk dan tekanan internal yang meningkat, Yatsenyuk memperingatkan bahwa Putin akan semakin berani—bukan karena ia kuat, tapi karena ia tidak punya pilihan lain. “Ia tahu: jika ia berhenti, ia akan jatuh. Dan ketika seorang diktator kehilangan kendali, ia akan membawa seluruh sistemnya runtuh bersamanya.”

Dalam dunia yang ingin percaya pada dialog, Yatsenyuk menawarkan satu kebenaran yang nyaris tak nyaman: Putin tidak ingin damai. Ia hanya ingin bertahan—dan untuk itu, ia akan membakar lebih banyak lagi.

Previous articleMantan Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi Meninggal di Pengasingan
Next articleWapres AS: Damai dengan Iran Hampir Terwujud
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik