Home Berita Internasional Ukraina Serang Zaporozhye, Ancaman Nuklir Mengancam Eropa

Ukraina Serang Zaporozhye, Ancaman Nuklir Mengancam Eropa

Sumbawanews.com,- Moskow — Serangan drone terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporozhye pada akhir pekan lalu memperdalam kekhawatiran global akan bencana nuklir terburuk sejak Chernobyl. Fasilitas terbesar di Eropa itu, yang kini dikuasai Rusia sejak 2022, dilaporkan mengalami kerusakan pada ruang mesin Unit 6 akibat serangan berbasis serat optik. Meski Ukraina membantai keterlibatannya, pihak Rusia melalui Direktur Jenderal Rosatom, Aleksey Likhachev, memperingatkan bahwa setiap serangan lebih besar—terutama dengan rudal berat—berpotensi merusak bejana reaktor dan melepaskan radiasi dalam skala luas.

Likhachev menekankan bahwa dampak radiasi tidak mengenal batas negara. “Setiap ledakan atau kebakaran di area pembangkit menjamin hilangnya pasokan listrik dan air ke unit reaktor—itu adalah tanda awal insiden nuklir,” ujarnya dalam pernyataan resmi kepada wartawan di Moskow, Senin (1/6/2026). Ia menambahkan, negara-negara tetangga Ukraina, termasuk sejumlah negara Uni Eropa, akan menjadi yang pertama terpapar risiko radiasi jika terjadi kebocoran besar.

Pernyataan itu disampaikan setelah Likhachev berdiskusi dengan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, yang sebelumnya telah mengonfirmasi adanya serangan di lokasi tersebut. Namun, IAEA tetap menahan diri menyalahkan pihak mana pun, menekankan pentingnya perlindungan fasilitas nuklir sebagai zona netral dalam konflik bersenjata.

PLTN Zaporozhye, yang beroperasi di bawah kendali Rosatom sejak aneksasi wilayah Zaporozhye oleh Rusia, menjadi titik rawan paling kritis dalam perang Rusia-Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky berulang kali menyerukan agar fasilitas itu dikembalikan ke kendali Kiev, menyebutnya sebagai satu-satunya jaminan keamanan. Sementara itu, Rusia menolak tuntutan itu, mengklaim bahwa pengelolaan mereka justru mencegah kekacauan lebih besar.

Dengan 6 reaktor dan kapasitas listrik yang mampu memenuhi kebutuhan hampir 4 juta rumah tangga, kerusakan pada PLTN ini bukan hanya soal energi—tapi soal kelangsungan hidup jutaan jiwa di Eropa Timur dan Tengah. Para ahli keamanan nuklir memperingatkan bahwa bahkan kegagalan sistem pendingin jangka pendek bisa memicu reaksi berantai yang tak terkendali.

Dalam konteks ini, peringatan Rosatom bukan sekadar retorika militer. Ini adalah alarm nyata: di tengah perang yang semakin bergeser ke ranah teknologi dan infrastruktur kritis, Eropa kini berdiri di tepi jurang nuklir—bukan karena senjata nuklir, tapi karena kecerobohan dalam menangani satu fasilitas yang, jika gagal, bisa mengubah peta radiasi benua itu selama generasi.

Previous articleHercules Diperiksa Terkait Dugaan Intimidasi Ilma Sani
Next articlePrabowo Dorong Investasi Rp2.430 Triliun Lewat Diplomasi Ekonomi
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik