Sumbawanews.com,- Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta memetakan tiga kemungkinan jalan yang bisa ditempuh konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat—dari jalan damai hingga eskalasi nuklir yang berisiko mengguncang tatanan global. Dalam wawancara eksklusif di Jakarta, Anis menegaskan bahwa kawasan Timur Tengah kini berada di persimpangan berbahaya, di mana setiap langkah bisa memicu perubahan geopolitik abadi.
Menurut Anis, skenario pertama adalah perdamaian yang tercapai melalui negosiasi. Jika ini terjadi, Iran dianggap telah memenangkan ronde pertama. Tujuan utama Israel dan AS—menggulingkan rezim Teheran, menghancurkan kemampuan militer Iran, atau memicu kerusuhan internal—tak terwujud. Sebaliknya, pemerintah Iran tetap stabil, senjata strategisnya utuh, dan pengaruhnya di kawasan justru memperkuat. “Kalau ukurannya adalah target awal, maka target itu gagal. Artinya, Iran menang,” ujar Anis.
Namun, ia mengingatkan bahwa perdamaian belum pasti. Serangan berkelanjutan Israel terhadap Lebanon dan wilayah perbatasan Iran justru menjadi penghalang utama. Anis menyoroti pergeseran strategis penting: untuk pertama kalinya, Iran secara resmi mengaitkan keamanan Lebanon dengan keamanan nasionalnya sendiri. “Iran kini mengatakan: tidak ada pembicaraan damai selama Israel masih menyerang Lebanon,” jelasnya. Ini memperluas spektrum konflik dari perang bilateral menjadi konflik regional yang lebih kompleks, dengan Hizbullah sebagai poros utama.
Skenario kedua adalah eskalasi perang luas. Dalam kondisi ini, serangan balasan Iran yang semakin canggih—termasuk rudal jelajah dan drone—akan direspons dengan kekuatan militer AS dan sekutunya yang lebih masif. Ancaman serangan terhadap infrastruktur nuklir Iran, atau bahkan serangan balik terhadap pangkalan AS di Timur Tengah, menjadi kemungkinan nyata. Anis memperingatkan bahwa “ronde kedua akan jauh lebih brutal” dan bisa memicu reaksi berantai yang melibatkan negara-negara lain, termasuk yang non-kawasan.
Skenario ketiga—dan paling berbahaya—adalah status quo abadi: “no peace, no war.” Dalam kondisi ini, konflik berlangsung dalam bentuk serangan sporadis, serangan siber, pembunuhan target strategis, dan perang proxy. Kekacauan terus-menerus ini akan melemahkan ekonomi regional, memperdalam krisis kemanusiaan, dan memperkuat kelompok ekstremis. “Ini adalah skenario yang paling sulit dikelola, karena tidak ada titik terang, tapi juga tidak ada kehancuran total,” kata Anis.
Anis menekankan bahwa Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar dan aktif dalam diplomasi multilateral, harus bersiap menghadapi semua kemungkinan. “Kita tidak bisa hanya jadi penonton. Konflik ini bukan hanya soal Timur Tengah—ia akan memengaruhi harga energi, rantai pasok global, dan stabilitas keamanan kita sendiri,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa diplomasi Indonesia harus terus digerakkan secara aktif, baik melalui PBB maupun Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), untuk mendorong gencatan senjata dan membuka saluran komunikasi antar pihak. “Kita punya moral authority. Kita harus jadi jembatan, bukan penonton,” tegasnya.
Dengan ketegangan yang terus memanas, dunia kini menanti: apakah kebijaksanaan diplomatik akan mengalahkan kekuatan senjata—atau sejarah akan mencatat momen ini sebagai awal dari konflik yang tak bisa lagi dikendalikan.

















