Sumbawanews.com,- Ribuan jemaah haji memadati area Jamarat di Mina, Arab Saudi, dalam momen puncak ibadah haji yang dikenal sebagai ritual lempar jumrah. Dengan cuaca yang menyengat dan kerumunan yang tak terbendung, mereka melempar tujuh batu ke tiga tiang simbolis—tanda perlawanan terhadap godaan setan, sebagaimana diteladankan Nabi Ibrahim AS.
Ritual ini, yang dilaksanakan pada hari-hari Tasyrik setelah wukuf di Arafah dan bermalam di Muzdalifah, bukan sekadar gerakan fisik. Bagi jemaah, setiap lemparan batu adalah pernyataan iman: menolak bisikan kejahatan, keserakahan, dan egoisme yang menggoda manusia sepanjang hidup. Tiap tiang—Jamarah Ula, Wusta, dan Aqabah—mewakili titik-titik kritis dalam perjuangan spiritual, di mana Nabi Ibrahim menolak ajakan Iblis untuk menggagalkan perintah Tuhan.
Di bawah terik matahari yang mencapai 48 derajat Celsius, jemaah dari berbagai penjuru dunia—dari Indonesia, Afrika, Eropa, hingga Asia Tengah—berbaris rapi dalam sistem terstruktur yang dirancang untuk menghindari kepadatan berlebihan. Petugas haji dan keamanan Saudi berjaga ketat, membantu mengalirkan arus manusia, sambil terus mengingatkan agar tidak terburu-buru, tetap tenang, dan menjaga keselamatan sesama.
Tak ada kekacauan. Tak ada kepanikan. Hanya ketenangan yang dibungkus kekhusyukan. Seorang jemaah asal Jawa Tengah, Ahmad Fauzi, berkata sambil meneteskan keringat, “Ini bukan sekadar melempar batu. Ini adalah perang batin. Setiap batu yang saya lempar, saya lepaskan satu dosa, satu nafsu, satu keinginan duniawi.”
Ritual ini telah berlangsung selama lebih dari 1.400 tahun, dan meski teknologi modern telah membangun jembatan bertingkat dan sistem pendingin canggih, esensinya tetap tak berubah: manusia menghadap kebenaran, bukan kekuasaan; menolak godaan, bukan memenuhi nafsu.
Di ujung lemparan terakhir—di Jamarah Aqabah—jemaah sering berhenti sejenak. Mereka menengadah, berdoa, lalu menangis. Bukan karena lelah. Tapi karena merasa telah menang. Menang atas diri sendiri.
Dan di sanalah, di antara debu dan doa, iblis benar-benar kalah.















