Sumbawanews.com,- Di dalam bus, kereta, atau bahkan pesawat, hampir selalu ada satu kursi yang dibiarkan kosong—kursi tengah. Meski ruang tersedia, penumpang cenderung memilih tepi, bahkan jika harus berdiri. Fenomena ini bukan kebetulan, tapi hasil dari kebutuhan bawah sadar manusia akan ruang pribadi dan keamanan psikologis.
Penelitian mendalam oleh Kirsten Phillips, mahasiswa magister psikologi di Massey University, Selandia Baru, mengungkap akar perilaku ini. Dalam tesis berjudul *Choice of Bus Seat as an Indicator of Human Sensitivity to the Environment*, Phillips mengamati 546 penumpang selama 26 perjalanan bus. Hasilnya mengejutkan: mayoritas sengaja menghindari posisi tengah, bukan karena kenyamanan fisik, tapi karena tekanan emosional.
Pola pertama yang terlihat adalah kecenderungan alami untuk menyebar. Penumpang tidak duduk berdekatan meski kursi kosong berderet. Mereka memilih jarak, seolah-olah menciptakan zona aman tak terlihat. Ini bukan sekadar sopan santun—ini adalah strategi bertahan psikologis untuk mengurangi stres akibat kehadiran orang asing di ruang pribadi.
Pola kedua menunjukkan preferensi kuat terhadap kursi dekat jendela. Bukan hanya karena pemandangan, tapi karena ilusi ruang yang lebih luas. Melihat ke luar memberi sensasi kebebasan, seolah-olah ada batas antara diri dan dunia luar. Kursi jendela menjadi pelindung visual, tempat seseorang bisa “melarikan diri” secara mental meski masih duduk di dalam keramaian.
Pola ketiga paling mencolok: penumpang lebih memilih berdiri daripada duduk bersebelahan dengan orang asing. Bahkan ketika kursi tengah kosong, mereka akan memilih duduk di ujung, meski harus berbagi ruang dengan dua orang sekaligus. Ini menunjukkan bahwa kontak fisik dengan orang tak dikenal—meski tanpa sentuhan—telah dianggap sebagai pelanggaran teritori pribadi.
Riset ini menyimpulkan bahwa perilaku ini bukan kebiasaan acak, melainkan respons evolusioner. Manusia, sejak zaman purba, menghindari kepadatan sosial yang tak terkendali sebagai bentuk perlindungan. Di transportasi umum, kursi tengah menjadi simbol paling jelas dari intrusi sosial: diapit dua orang, tanpa jalan keluar, tanpa pandangan bebas. Tak heran jika ia menjadi “kursi terburuk” dalam persepsi kolektif.
Dalam konteks modern, fenomena ini juga mencerminkan krisis keintiman sosial yang semakin meningkat. Kita hidup di dunia yang terhubung, tapi justru semakin takut saling mendekat. Kursi tengah yang kosong bukan hanya soal ruang, tapi soal batas—batas antara diri dan orang lain, antara privasi dan publik, antara keamanan dan ketidakpastian.
Dengan demikian, ketika Anda melihat kursi tengah kosong di bus, jangan anggap itu keanehan. Itu adalah cermin halus dari psikologi manusia yang terus berusaha melindungi dirinya, bahkan dalam ruang paling umum sekalipun.















