Home Berita Internasional Penikaman Brutal Picu Kerusuhan di Belfast

Penikaman Brutal Picu Kerusuhan di Belfast

Sumbawanews.com,- Belfast, Irlandia Utara — Kerusuhan membara di jalan-jalan Belfast pada Rabu malam, menyusul penikaman brutal yang menewaskan tiga orang—semuanya perempuan—dalam serangan yang diduga bermotif kebencian terhadap imigran. Massa yang marah, sebagian besar dari komunitas pro-Britania, melemparkan batu bata, botol kaca, dan bom molotov ke arah pasukan polisi, memicu bentrokan berdarah yang berlangsung hingga dini hari.

Polisi menggelar operasi besar-besaran, menggunakan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan ribuan demonstran yang mengamuk di distrik Shankill dan Ardoyne—dua wilayah yang secara historis menjadi garis depan konflik etnis dan religius di Irlandia Utara. Tiga mobil dibakar, puluhan toko dirusak, dan sejumlah petugas terluka, termasuk seorang petugas yang mengalami patah tulang akibat lemparan batu besar.

Korban penikaman, yang identitasnya belum dirilis secara resmi, ditemukan tewas di sebuah taman umum di pinggiran kota. Pelaku, seorang pria berusia 34 tahun yang sebelumnya pernah menjalani perawatan psikiatris, ditangkap di lokasi kejadian dengan senjata tajam masih di tangan. Polisi menyatakan bahwa pelaku secara eksplisit menyebut “pembersihan imigran” sebagai motif serangannya, sebuah pernyataan yang langsung memicu gelombang balas dendam di kalangan kelompok nasionalis pro-Britania.

Kekerasan ini bukanlah insiden terisolasi. Ini adalah bentrokan terburuk sejak 2021, ketika kerusuhan serupa meletus setelah keputusan pengadilan yang dianggap memihak komunitas Katolik nasionalis. Kini, ketegangan kembali memanas di tengah meningkatnya sentimen anti-imigran pasca-kebijakan imigrasi ketat pemerintah Inggris, yang banyak dikritik sebagai memicu stigma terhadap kelompok minoritas.

Pemimpin komunitas imigran mengecam aksi kekerasan itu sebagai “kegagalan moral bersama,” sementara Perdana Menteri Irlandia Utara, Michelle O’Neill, menyerukan “kedamaian, bukan kebencian.” “Kita tidak bisa membiarkan satu tindakan kejam menghancurkan puluhan tahun usaha perdamaian,” ujarnya dalam pernyataan darurat.

Pemerintah Inggris, melalui Menteri Urusan Irlandia Utara, Hilary Benn, mengirim tim keamanan tambahan dan menjanjikan penyelidikan penuh. “Kami tidak akan membiarkan kekerasan menggoyahkan stabilitas yang telah kita bangun dengan susah payah,” tegas Benn.

Di tengah kekacauan, warga biasa dari kedua sisi konflik berbondong-bondong membersihkan puing-puing, membangun barricade manusia untuk mencegah bentrokan lebih lanjut, dan menyalakan lilin di lokasi kejadian sebagai simbol duka dan perlawanan terhadap kebencian.

Kini, seluruh Irlandia Utara menahan napas. Apakah ini hanya ledakan emosi sementara—atau awal dari siklus kekerasan baru yang lebih gelap?

Previous articleKPK Tahan Dua Tersangka dalam OTT Lanjutan Muara Enim
Next articleIndonesia Diminta Ratifikasi Tiga Konvensi HAM
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.