Home Berita Internasional Israel Perluas Zona Penyangga di Tiga Wilayah

Israel Perluas Zona Penyangga di Tiga Wilayah

Sumbawanews.com,- Beirut – Pasukan Israel kini mengendalikan wilayah-wilayah strategis di selatan Lebanon, sambil memperluas operasi militer ke perbatasan Suriah dan wilayah Gaza, dalam upaya sistematis membangun zona penyangga yang dianggapnya sebagai jaminan keamanan nasional. Langkah ini memperdalam krisis kemanusiaan di kawasan yang sudah porak-poranda akibat konflik berkepanjangan.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu secara terbuka mengumumkan perluasan operasi militer di Lebanon selatan, menegaskan bahwa misi ini bukan sekadar respons taktis, melainkan strategi jangka panjang yang “membutuhkan waktu” untuk menyelesaikan ancaman dari Hizbullah. Dalam pernyataannya, Netanyahu menyebut pasukan Israel telah menewaskan sekitar 700 anggota Hizbullah hanya dalam bulan Mei, dengan total korban sejak Maret mencapai 8.000 orang—angka yang belum diverifikasi oleh pihak independen.

Di lapangan, tentara Israel telah menduduki Kastil Beaufort (Qalaat al-Shaqif), sebuah benteng bersejarah di perbatasan Lebanon-Suriah, yang kini berubah menjadi pos komando militer. Di sisi lain, serangan udara dan darat terus menghantam desa-desa di sepanjang garis batas, memaksa ribuan warga sipil mengungsi. Laporan dari Kementerian Kesehatan Lebanon menunjukkan bahwa sebagian besar korban adalah perempuan, anak-anak, dan petugas medis—korban yang tak bersenjata, tapi menjadi sasaran utama serangan.

Tak hanya di Lebanon, Israel juga memperdalam kehadiran militernya di perbatasan selatan Suriah, di mana mereka mengklaim telah menghancurkan sejumlah titik peluncuran rudal dan jaringan logistik yang dikaitkan dengan kelompok bersenjata yang didukung Iran. Di Gaza, meskipun gencatan senjata secara resmi masih berlaku, Israel terus mempertahankan kontrol atas sejumlah wilayah perbatasan, mengklaim bahwa zona penyangga itu diperlukan untuk mencegah serangan balasan dari kelompok bersenjata.

Teheran, yang menjadi pendukung utama Hizbullah dan kelompok-kelompok pro-Iran lainnya, menegaskan bahwa penghentian total operasi militer Israel di Lebanon, Suriah, dan Gaza adalah syarat mutlak untuk setiap kesepakatan damai dengan Amerika Serikat. Sementara itu, komunitas internasional terpecah: sebagian negara mengecam tindakan Israel sebagai pelanggaran berulang terhadap hukum internasional, sementara yang lain memilih diam, mengutamakan stabilitas geopolitik di atas keadilan kemanusiaan.

Di tengah keheningan diplomatik, warga sipil di Lebanon selatan, Gaza, dan perbatasan Suriah terus hidup dalam bayang-bayang serangan yang tak terduga. Sekolah-sekolah tutup, rumah sakit kehabisan obat, dan jalan-jalan berubah menjadi reruntuhan. Tidak ada gencatan senjata yang bisa menenangkan ketakutan—hanya keheningan sejenak sebelum ledakan berikutnya.

Netanyahu menegaskan: “Kami tidak akan mundur sampai ancaman dihilangkan.” Tapi bagi jutaan orang yang kehilangan rumah, keluarga, dan masa depan, pertanyaannya bukan lagi tentang keamanan Israel—melainkan: sampai kapan kehancuran akan dianggap sebagai solusi?

Previous articleChromebook Jadi Pintu Bongkar Korupsi Sistemik di Pendidikan
Next articleEkonomi Pancasila Jadi Fondasi Pembangunan
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik