Sumbawanews.com,- Serangan udara Israel meluluhlantakkan sejumlah wilayah di Lebanon selatan pada Rabu (10/6/2026), menewaskan sedikitnya 12 warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, menurut laporan Kementerian Kesehatan Lebanon. Serangan yang melibatkan lebih dari 30 titik ini menargetkan kota-kota seperti Tayr Debba, Deir Qanun al-Nahr, dan Sidon—lokasi yang jarang menjadi sasaran utama sebelumnya.
Di Tayr Debba, sembilan orang tewas dalam satu serangan tunggal, sementara tiga korban lainnya jatuh di Sidon, di mana sebuah mobil terbakar setelah dilanda rudal. Tim penyelamat berhasil mengevakuasi dua korban dari puing-puing kendaraan yang hancur. Sumber medis lokal juga melaporkan empat tewas di Deir Qanun al-Nahr, memperdalam duka di komunitas yang sudah lama terpapar konflik.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam pernyataan video, menegaskan bahwa Israel tidak berperang melawan rakyat Lebanon, melainkan melawan Hizbullah—kelompok yang ia sebut sebagai “penyandera negara Lebanon.” Ia mengajak warga Lebanon untuk bergabung dalam upaya melemahkan Hizbullah demi masa depan yang lebih aman bagi kedua bangsa.
Namun, ajakan itu tak mempan. Hizbullah menolak kesepakatan gencatan senjata bersyarat yang diumumkan pekan lalu setelah pembicaraan di Washington. Kelompok ini terus melancarkan serangan balasan, termasuk dengan roket dan pesawat nirawak, terhadap posisi militer Israel di perbatasan. Ribuan pendukung Hizbullah memadati pinggiran selatan Beirut pada Rabu malam, mengibarkan bendera Iran dan Hizbullah sebagai simbol solidaritas.
Kerusakan infrastruktur pun meluas. Rumah sakit Jabal Amel di Tyre rusak parah akibat serangan udara, memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah yang sudah dipenuhi pengungsi. Otoritas Lebanon mencatat hampir 3.700 warga sipil tewas sejak eskalasi konflik meletus pada Maret 2026. Di pihak Israel, 29 tentara dan satu kontraktor sipil tewas dalam operasi militer di Lebanon.
Dua warga Lebanon yang sebelumnya ditahan militer Israel—seorang anggota dewan kota dan seorang pegawai pemerintah dari Kfarshuba—akhirnya dibebaskan, dalam langkah yang dianggap sebagai sinyal diplomatik. Sementara itu, Iran menegaskan bahwa Lebanon harus menjadi bagian integral dari setiap negosiasi perdamaian di kawasan, menolak kesepakatan yang mengabaikan peran Beiruit.
Dengan gencatan senjata yang rapuh dan serangan berkelanjutan, kawasan ini terus terjebak dalam siklus kekerasan yang tak kunjung usai—mengubah desa-desa yang damai menjadi puing, dan mengubah harapan menjadi duka.

















