Sumbawanews.com,- Pasukan Israel diketahui melakukan penjarahan sistematis dan penghancuran rumah warga sipil di Lebanon selatan selama operasi militer yang berlangsung sejak Maret lalu. Kesaksian sejumlah prajurit cadangan yang diwawancarai media Israel, Haaretz, mengungkap bahwa pencurian barang-barang pribadi—mulai dari karpet, sepeda motor, hingga sabun cuci tangan—telah menjadi bagian tak terpisahkan dari misi operasional, bahkan diakui sebagai “misinya yang sebenarnya” setelah daerah dinyatakan aman.
Menurut salah satu prajurit yang diwawancarai, setelah memastikan tidak ada perlawanan, pasukan langsung beralih dari tugas militer ke tugas penjarahan. “Setiap kali Anda berjalan di desa, Anda akan melihat tentara membawa barang-barang warga seperti milik mereka sendiri. Rasanya itu adalah tujuan utama mereka,” ujar prajurit itu, seperti dikutip Middle East Eye. Barang-barang yang diambil tidak hanya dari rumah-rumah kosong, tetapi juga dari toko-toko yang masih utuh, termasuk peralatan elektronik, furnitur, dan peralatan rumah tangga bernilai tinggi.
Pemerintah Israel, melalui Kepala Staf Angkatan Darat Eyal Zamir, mengakui bahwa penjarahan “memalukan” dan berjanji akan menyelidiki kasus-kasus yang terjadi. Namun, upaya penindakan nyata hampir tidak terlihat. Zamir meminta para komandan di lapangan menandatangani surat komitmen untuk mencegah aksi tersebut, tetapi salah satu komandan menolak, dengan menyatakan bahwa masalah disiplin bermula dari jajaran pimpinan tertinggi. “Sikap mereka tidak peduli selama tidak ada yang terluka,” kata prajurit itu. “Komando atas tidak berusaha menghentikan kami.”
Tak hanya menjarah, pasukan Israel juga menjalankan misi penghancuran sistematis terhadap infrastruktur sipil. Dalam laporan yang sama, tentara mengaku bahwa rumah-rumah, sekolah, dan klinik di desa-desa Lebanon selatan—yang sama sekali tidak menjadi basis Hizbullah—sengaja diratakan. “Tidak ada pertempuran. Hanya operasi untuk meratakan rumah,” ujar seorang prajurit. Bagi sebagian tentara yang religius, penghancuran ini dianggap sebagai bagian dari “misi suci”—sebuah pandangan yang didukung oleh komandan batalion yang menyatakan, “Ini juga Israel.”
Sejarawan Israel Adam Raz, yang meneliti penjarahan selama Nakba 1948, menyatakan bahwa praktik ini bukan hal baru, tetapi yang berbeda kini adalah “ketidakpedulian total dari jajaran komando.” “Kriminalitas berlanjut tanpa hambatan, dan kejahatan itu mencapai tujuannya,” katanya.
Laporan dari Euro-Med Human Rights Monitor mendukung temuan ini, menyebut pola penjarahan yang terstruktur dan konsisten di Lebanon, Tepi Barat, dan Gaza. Kelompok hak asasi manusia itu menyimpulkan bahwa aksi-aksi tersebut kemungkinan besar telah menjadi kebijakan de facto militer Israel. Di luar Lebanon, catatan serupa muncul di Suriah, di mana pasukan Israel dilaporkan mencuri 250 ekor kambing pada Januari lalu.
Meski perintah resmi telah dikeluarkan untuk menghentikan penjarahan—bahkan dengan cara menghancurkan barang-barang di toko agar tidak menjadi sasaran—tidak ada satu pun tentara yang dihukum. Tidak ada proses hukum, tidak ada tanggung jawab. Hanya keheningan yang menggantikan janji-janji moral.
Dalam konteks perang yang semakin memperdalam krisis kemanusiaan, apa yang terjadi di Lebanon selatan bukan sekadar pelanggaran disiplin militer. Ia adalah bukti bahwa perang, dalam beberapa bentuknya, telah berubah menjadi eksploitasi sistematis—bukan hanya atas tanah, tapi atas martabat manusia.















