Sumbawanews.com,- Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan serangan rudal jelajah terhadap kapal MSC Sariska, yang diklaim sebagai kapal milik AS-Israel, sebagai respons atas serangan sebelumnya terhadap kapal Iran, Lion Star, di Teluk Oman. Serangan balasan ini terjadi di perairan strategis Selat Hormuz, memperdalam ketegangan yang telah memanas sejak serangan sepihak AS dan Israel terhadap sejumlah target di Iran pada Februari lalu.
Menurut pernyataan IRGC yang dikutip kantor berita Tasnim, serangan terhadap Lion Star—yang menewaskan puluhan awak dan merusak infrastruktur maritim Iran—dianggap sebagai pelanggaran berat terhadap kedaulatan nasional. Sebagai balasan, IRGC menargetkan MSC Sariska dengan rudal jelajah, menegaskan bahwa setiap agresi militer di Selat Hormuz akan dijawab dengan kekuatan yang setara dan tanpa kompromi.
Ketegangan ini bermula pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara dan rudal terhadap fasilitas militer dan infrastruktur strategis Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan itu menewaskan lebih dari 3.000 orang dan merusak jaringan listrik, pelabuhan, serta sistem komunikasi. Meski kedua belah pihak sepakat mengumumkan gencatan senjata pada 8 April, perundingan damai di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan konkret. Sejak itu, AS memperketat blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, memicu kemarahan Teheran.
IRGC menekankan bahwa Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali penuh Iran, dan mereka siap mempertahankannya dengan segala cara. Pernyataan ini sejalan dengan seruan resmi Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang menyatakan kesiapan Iran untuk menutup babak perang melalui dialog—namun hanya jika AS dan sekutunya menghentikan agresi dan menghormati kedaulatan Iran.
Sementara itu, Washington belum memberikan komentar resmi atas serangan terbaru ini. Namun, laporan intelijen mengindikasikan bahwa kapal-kapal perang AS kini meningkatkan patroli di sekitar Selat Hormuz, dengan 70 kapal dagang yang diawaki oleh armada militer AS untuk memastikan kelancaran lalu lintas maritim global.
Dengan eskalasi ini, dunia mengawasi apakah ketegangan akan memicu konflik berskala lebih luas, atau apakah tekanan diplomatik dari negara-negara seperti Pakistan, Arab Saudi, dan Jepang—yang mendesak keamanan maritim di kawasan—akan mampu mendinginkan situasi.















