Home Berita Internasional Iran Tegaskan Tak Akan Menyerah Meski Digempur AS

Iran Tegaskan Tak Akan Menyerah Meski Digempur AS

Sumbawanews.com,- Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak akan pernah mengalah meski menghadapi serangan militer beruntun dari Amerika Serikat. Pernyataan tegas itu disampaikannya dalam acara peringatan almarhum Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di Teheran, Rabu, sehari setelah serangan udara AS menghantam sejumlah lokasi strategis di wilayah Iran.

Serangan yang terjadi pada malam sebelumnya menargetkan fasilitas militer dan infrastruktur penting, sebagai bagian dari eskalasi ketegangan yang semakin memburuk di kawasan Timur Tengah. Namun, bukannya meredam semangat, serangan itu justru memperkuat tekad pemerintah Iran untuk mempertahankan kedaulatan dan menolak tekanan luar.

“Kami tidak akan mundur, tidak akan menghentikan program pertahanan kami, dan tidak akan membiarkan ancaman asing menggoyahkan keyakinan bangsa ini,” tegas Pezeshkian di hadapan para pejabat tinggi, militer, dan ribuan warga yang berkumpul di alun-alun utama ibu kota.

Pernyataan itu sekaligus menanggapi klaim pihak AS yang menyatakan serangan tersebut sebagai “tindakan terbatas” untuk menghentikan aktivitas militer Iran yang dianggap mengancam keamanan regional. Namun, Tehran menilai langkah itu sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk melemahkan pengaruh Iran di Timur Tengah—sebuah upaya yang, menurut Pezeshkian, telah gagal berkali-kali dalam sejarah.

Sejak tahun-tahun terakhir, hubungan antara Iran dan AS semakin memburuk, dengan sanksi ekonomi, pembunuhan target strategis, hingga insiden sabotase infrastruktur nuklir menjadi bagian dari dinamika konflik yang tak kunjung reda. Namun, Iran terus memperkuat kemampuan rudalnya, memperluas jaringan sekutu di kawasan, dan menunjukkan kemampuan balasan yang mampu menjangkau jarak ribuan kilometer—seperti yang terlihat dalam serangan balasan terhadap tiga negara sekaligus beberapa minggu lalu.

Dalam pidatonya, Pezeshkian juga menekankan bahwa Iran tidak mencari perang, tetapi siap menghadapinya jika dipaksa. “Kami bukan agresor, tapi kami juga bukan korban yang pasif. Setiap serangan terhadap tanah air kami akan dibalas dengan kekuatan yang tak terduga dan tak terbendung.”

Pernyataan itu disambut sorak-sorai massal di lokasi acara,Iran Tegaskan Tak Akan Menyerah Meski Digempur AS

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak akan pernah mengalah meski menghadapi serangan militer beruntun dari Amerika Serikat. Pernyataan tegas itu disampaikannya dalam pidato peringatan almarhum Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di Teheran, Rabu, sehari setelah serangan udara AS menghantam sejumlah fasilitas strategis di wilayah Iran.

Serangan yang terjadi pada dini hari sebelumnya menargetkan pusat-pusat militer dan infrastruktur pertahanan, sebagai respons terhadap serangkaian peluncuran rudal Iran terhadap target di wilayah Timur Tengah. Namun, bukannya melemah, respon Tehran justru semakin keras. Pezeshkian menekankan bahwa tekanan eksternal hanya memperkuat tekad bangsa Iran untuk mempertahankan kedaulatan dan kehormatan nasional.

“Kami tidak menginginkan perang, tetapi kami juga tidak takut pada ancaman,” ujar Pezeshkian di hadapan ribuan warga yang berkumpul di alun-alun utama Teheran. “Setiap peluru yang ditembakkan ke tanah kami akan dibalas dengan keberanian yang tak terbendung.”

Pernyataan itu mengulang narasi resmi Iran yang konsisten sejak tahun-tahun terakhir: bahwa kekuatan militer AS tidak bisa memaksa negara ini mundur dari jalur strategisnya, baik dalam program nuklir maupun dukungan terhadap kelompok-kelompok sekutu di kawasan. Meski sanksi ekonomi dan tekanan diplomasi terus berlanjut, Iran justru mempercepat pengembangan teknologi pertahanan dan memperluas jaringan aliansi regional.

Pemerintah AS, yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump, belum memberikan komentar resmi atas pernyataan Pezeshkian. Namun, sejumlah pejabat militer di Washington dilaporkan mengaku bahwa serangan terbaru adalah bagian dari strategi “pengendalian eskalasi” — bukan permulaan perang besar, tetapi upaya untuk mengirim pesan bahwa pelanggaran keamanan regional tidak akan dibiarkan tanpa konsekuensi.

Sementara itu, di jalur diplomasi, negara-negara Eropa dan sekutu Asia Tenggara terus mendorong dialog, khawatir konflik ini bisa memicu gelombang ketidakstabilan yang meluas hingga ke pasar energi global. Namun, di Teheran, nada yang didengar bukanlah permintaan damai — melainkan tekad untuk bertahan, bahkan jika harus menghadapi semua bentuk tekanan.

Dengan latar belakang sejarah panjang ketegangan antara Iran dan AS, pernyataan Pezeshkian bukan sekadar retorika. Ia adalah simbol dari sebuah keputusan nasional: bahwa kemerdekaan lebih berharga daripada keamanan sementara, dan bahwa kehormatan tidak bisa ditawar.

Previous articleJK dan Prabowo Sepakat Galakkan Investasi Energi Hijau Rp70 Triliun
Next articleYouTube Kembalikan Fitur Pesan Pribadi
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.