Sumbawanews.com,- Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara terbuka menyatakan kesiapan Teheran untuk meredakan ketegangan di kawasan Teluk, sekaligus mengucapkan terima kasih atas peran aktif Qatar sebagai mediator damai. Dalam pembicaraan dengan Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, Pezeshkian menekankan bahwa Iran tidak mencari konflik, melainkan ingin membangun kerangka kerja bermartabat untuk mengakhiri siklus kekerasan yang telah lama menghantui wilayah itu.
“Kami menghargai upaya konstruktif dan konsisten Pemerintah Qatar dalam mendorong dialog,” ujar Pezeshkian, seperti dilansir Kantor Kepresidenan Iran pada Selasa (26/5/2026). “Kini saatnya Washington menunjukkan kesungguhan, bukan sekadar retorika.”
Pernyataan itu disampaikan di tengah upaya intensif negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat, yang kini berlangsung di latar belakang perantara Qatar. Delegasi tinggi Iran, dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad-Bagher Ghalibaf, telah melakukan serangkaian pembicaraan di Doha, dengan fokus utama pada pencairan aset Iran yang terkunci di luar negeri senilai 24 miliar dolar AS—atau sekitar Rp 427,2 triliun. Menurut sumber yang dekat dengan tim negosiasi, proposal Iran mencakup 14 poin, dengan separuh dana direncanakan dilepaskan dalam tahap awal, dan sisanya menyusul setelah verifikasi komitmen kedua belah pihak.
Pezeshkian menegaskan, langkah-langkah teknis sedang disusun oleh para ahli kedua negara untuk merumuskan teks akhir yang jelas dan dapat dijalankan. Ia menekankan bahwa stabilitas regional tidak bisa dicapai dengan tekanan atau sanksi, melainkan melalui kepercayaan yang dibangun secara bertahap.
Pernyataan ini sejalan dengan serangkaian sinyal diplomatik Iran dalam beberapa bulan terakhir, termasuk surat terbuka Presiden kepada rakyat Amerika Serikat dan komentar sebelumnya yang menyebut Iran “tidak mencari perang,” melainkan hanya ingin mengamankan hak-haknya secara sah. Dalam konteks ini, peran Qatar muncul sebagai titik temu yang kredibel—negara yang tetap menjaga hubungan dengan kedua belah pihak, sekaligus memiliki reputasi sebagai mediator yang dihormati di dunia Islam dan internasional.
Sementara itu, upaya diplomatik ini berlangsung di tengah tekanan geopolitik yang semakin kompleks: AS dan Israel terus menghadapi kritik atas kebijakan militer di Timur Tengah, sementara PBB gagal mengesahkan resolusi pembukaan Selat Hormuz akibat veto dari Rusia dan China. Dalam situasi seperti ini, inisiatif Iran yang menggandeng Qatar bukan sekadar taktik diplomasi, tapi sebuah sinyal strategis: bahwa Teheran ingin dilihat sebagai pihak yang bertanggung jawab, bukan sebagai agen ketidakstabilan.
Dengan kata lain, ucapan terima kasih kepada Emir Qatar bukan sekadar formalitas. Ia adalah bagian dari narasi besar Iran: ingin keluar dari isolasi, bukan dengan kekerasan, tapi dengan diplomasi yang terukur dan berkelanjutan.















