Sumbawanews.com,- Umat Muslim di seluruh penjuru dunia memperingati Iduladha 1447 H dengan penuh kekhusyukan, menggabungkan ibadah sakral dengan tradisi lokal yang memukau. Dari pantai Senegal hingga jantung Moskow, dari kota suci Karbala hingga tepi Pantai Ancol, perayaan ini menjadi simbol persatuan dalam keberagaman.
Di Yoff, Dakar, anak-anak mencuci domba di tepi laut menjelang ritual penyembelihan, sementara di Moskow, ribuan jamaah berbaris rapi di luar Masjid Pusat, menghadap kiblat di tengah dinginnya musim semi Eropa Timur. Di Karbala, Irak, jemaah Syiah berdoa antara dua makam suci—Imam Hussein dan Imam Abbas—dengan air mata dan harapan yang mengalir bersama lantunan takbir.
Di Qatar, suasana meriah menyelimuti Education City Stadium, di mana seorang pria berpakaian karakter menghibur anak-anak usai shalat Id. Sementara di Jerusalem, keluarga Palestina berkumpul di sekitar Al-Aqsa, menahan napas di bawah langit yang sama yang pernah menyaksikan ribuan nabi dan peziarah.
Di Malaysia, seorang pria berusaha menahan kambing yang tak ingin dipersiapkan untuk kurban, sementara di Kairo, balon-balon warna-warni dilepaskan ke udara setelah shalat, memicu kegembiraan anak-anak yang berlarian mengejar mimpi-mimpi kecil yang mengambang.
Perayaan ini bukan sekadar ritual, tapi narasi hidup tentang pengorbanan, kepedulian, dan kebersamaan. Di setiap hembusan angin yang membawa aroma daging kurban, di setiap senyum anak yang menerima daging qurban, di setiap doa yang terdengar dari masjid, musholla, hingga lapangan terbuka—semua menyatu dalam satu bahasa: keimanan yang tak mengenal batas negara.
Dengan latar belakang budaya yang berbeda, umat Islam membuktikan bahwa Iduladha bukan hanya momen keagamaan, tapi juga cermin kemanusiaan yang universal—di mana pengorbanan menjadi jembatan antarumat, dan kebahagiaan dibagikan, bukan disimpan.















