Sumbawanews.com,- Amman – Garda Revolusi Islam Iran melancarkan serangan rudal terhadap pangkalan udara Muwaffaq Salti di Yordania, yang menjadi markas pesawat tempur siluman F-35 milik Amerika Serikat. Serangan ini merupakan bagian dari balasan terhadap serangan udara AS di wilayah selatan Iran, yang menurut Teheran melanggar kedaulatan nasionalnya.
Menurut pernyataan militer Yordania, lima rudal yang diluncurkan dari Iran berhasil diintersepsi di atas wilayah al-Azraq. Puing-puing rudal jatuh di tanah Yordania, namun tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan material. Meski demikian, target utama serangan—pangkalan yang menampung jet tempur generasi kelima AS—tetap menjadi simbol ketegangan militer yang memanas.
Tak hanya di Yordania, Iran juga menargetkan pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait. Di Bahrain, Korps Pengawal Revolusi Islam melancarkan serangan dengan pesawat tak berawak (drone) terhadap Armada Kelima Angkatan Laut AS, sebagai respons atas serangan udara AS yang menewukan salah satu helikopter Apache di sepanjang Selat Hormuz.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengklaim serangan itu sebagai tindakan balasan atas “provokasi militer Iran,” sementara Kementerian Luar Negeri Iran mengecam tindakan AS sebagai “pelanggaran terang-terangan” terhadap Piagam PBB, khususnya Pasal 2 Ayat 4 yang melarang penggunaan kekuatan dalam hubungan internasional.
“Angkatan bersenjata Iran menyerang pangkalan-pangkalan yang menjadi titik peluncuran agresi ini,” tegas kementerian itu dalam pernyataan resminya, menegaskan bahwa tindakan tersebut adalah hak sah untuk membela diri sebagaimana diatur dalam Pasal 51 Piagam PBB.
Ketegangan ini memperdalam krisis keamanan di Timur Tengah, di mana kehadiran militer AS di negara-negara sekutu seperti Yordania, Bahrain, dan Kuwait terus menjadi sumber ketidakpercayaan strategis bagi Iran. Serangan terhadap F-35—senjata paling canggih dalam arsenal AS—menandai eskalasi baru, bukan hanya dalam bentuk serangan, tetapi juga dalam sinyal politik: Teheran tidak lagi hanya mempertahankan diri, tetapi secara terbuka menargetkan aset militer paling simbolis kekuatan Barat di kawasan.
Sementara itu, diplomasi regional terus berjalan di bawah tekanan. Yordania, yang secara tradisional menjaga hubungan seimbang dengan kedua belah pihak, menekankan bahwa serangan itu tidak mengganggu stabilitas keamanan nasionalnya. Namun, ancaman serupa di masa depan memperlihatkan betapa rapuhnya keseimbangan kekuatan di kawasan yang telah lama menjadi panggung konflik tak terlihat antara Washington dan Teheran.

















