Sumbawanews.com,- Teheran – Iran secara tegas menjadikan penghentian agresi militer Israel terhadap Gaza sebagai syarat mutlak untuk melanjutkan pembicaraan gencatan senjata dengan Amerika Serikat. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Senin, pihak Teheran menyatakan bahwa kelanjutan serangan di Gaza bukan sekadar pelanggaran kemanusiaan, tetapi merupakan bagian dari serangan strategis terhadap republik Islam itu sendiri.
Kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan bahwa tim perunding Iran telah menghentikan semua komunikasi dengan AS, termasuk pertukaran teks melalui perantara, setelah Israel terus memperluas operasi militernya di Lebanon selatan—wilayah yang sebelumnya diakui sebagai bagian integral dari kesepakatan gencatan senjata. “Gencatan senjata ini kini telah dilanggar di semua lini, termasuk Lebanon,” demikian bunyi pernyataan resmi Iran, menekankan bahwa kekerasan di Gaza dan Lebanon tidak bisa dipisahkan dalam kerangka kebijakan regional.
Iran tidak hanya menuntut penghentian serangan, tetapi juga menyerukan penarikan total pasukan Israel dari seluruh wilayah pendudukan di Lebanon, serta menggambarkan tindakan militer Israel sebagai “operasi agresif dan brutal” yang menargetkan “manusia dan batu”—frasa yang menggambarkan upaya sistematis untuk menghancurkan infrastruktur sipil dan kehidupan sehari-hari warga Palestina dan Lebanon.
Pernyataan Iran ini disambut hangat oleh faksi-faksi perlawanan Palestina, yang menyebut posisi Teheran sebagai “sikap berprinsip” dan bukti nyata komitmen jangka panjang Iran terhadap perjuangan rakyat Palestina. Dalam pernyataan bersama, kelompok-kelompok perlawanan menegaskan bahwa kebijakan Iran mencerminkan solidaritas otentik dengan bangsa-bangsa yang menolak penjajahan, dan mengajak masyarakat global untuk bangkit mendukung rakyat Gaza dan Lebanon dalam menghadapi apa yang mereka sebut sebagai “genosida yang didukung oleh Israel dan AS”.
Pengumuman ini muncul tak lama setelah militer Israel memperingatkan warga di kawasan Dahiyeh, pinggiran selatan Beirut, untuk segera mengungsi menjelang kemungkinan serangan udara. Respons cepat Iran memicu tekanan diplomatik terhadap Israel, yang berujung pada telepon darurat antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu—sebuah upaya Washington untuk menahan eskalasi yang bisa memicu perang regional yang lebih luas.
Sementara itu, citra kehancuran di Gaza terus mengalir dari lapangan: dapur umum yang hancur, rumah-rumah berpuing, dan warga yang berlarian mencari perlindungan. Video-video yang beredar menunjukkan betapa dalamnya luka yang ditimbulkan oleh serangan berkelanjutan, yang menurut para pengamat telah mengubah Gaza menjadi medan perang yang tak lagi mengenal batas antara militer dan sipil.
Dengan Gaza kini menjadi pusat dari segala tuntutan diplomatik, tekanan internasional semakin menguat. Namun, bagi Iran dan para sekutunya, ini bukan soal negosiasi biasa—ini adalah ujian prinsip: apakah dunia akan membiarkan kekerasan berlanjut, atau memilih untuk menegakkan keadilan sebelum terlambat.















