Sumbawanews.com,- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa berkekuatan M5,4 yang mengguncang Sarmi, Papua, pada Selasa (2/6/2026) pukul 06.01 WIB, tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Getaran kuat terasa hingga pusat kota, membuat warga terbangun, namun hingga kini belum ada laporan kerusakan signifikan atau korban jiwa.
Episenter gempa berada di darat, tepatnya 24 kilometer arah tenggara Sarmi, pada kedalaman 19 kilometer. Koordinatnya berada di 2,03° LS dan 138,91° BT. Awalnya dilaporkan berkekuatan M5,4, namun setelah analisis lebih mendalam, BMKG merevisi magnitudo menjadi M5,1. Gempa ini diklasifikasikan sebagai gempa dangkal akibat aktivitas sesar Anjak Mamberamo—jalur geologis aktif yang membentang di wilayah Papua.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa mekanisme sumber gempa menunjukkan pergerakan geser (strike-slip), yang umum terjadi di zona tumbukan lempeng tektonik. “Ini bukan gempa subduksi, sehingga risiko tsunami sangat kecil,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Getaran dirasakan kuat di Sarmi dengan skala IV MMI—artinya, getaran dirasakan hampir semua penduduk, banyak yang terbangun, dan benda-benda ringan bergoyang. Wilayah sekitarnya, termasuk beberapa kawasan di pantai utara Papua, juga merasakan guncangan ringan hingga sedang.
Pusat gempa berada jauh dari pantai, dan kedalaman hiposenternya yang relatif dangkal namun tidak terkait dengan zona subduksi laut, menjadi alasan utama BMKG menetapkan tidak ada ancaman tsunami. Masyarakat diminta tetap tenang, namun tetap waspada terhadap gempa susulan yang kemungkinan terjadi dalam beberapa jam ke depan.
Papua, yang berada di cincin api Pasifik, kerap mengalami gempa akibat interaksi lempeng tektonik. Gempa serupa pernah terjadi beberapa hari lalu di NTT dan Sulawesi Utara, namun selalu berakhir tanpa dampak besar berkat sistem pemantauan dan respons cepat BMKG.
Hingga berita ini diturunkan, tim tanggap darurat daerah masih melakukan pemantauan di lapangan. Pemerintah Kabupaten Sarmi mengimbau warga untuk tidak mendekati tebing atau lereng curam yang berpotensi longsor akibat guncangan.















