Sumbawanews.com,- Gaza — Umat Muslim di Gaza merayakan Idul Adha di tengah puing-puing dan kehancuran akibat serangan Israel yang tak kunjung berhenti. Shalat Id yang seharusnya penuh kegembiraan terasa suram, digelar di tengah reruntuhan masjid dan rumah-rumah yang hancur. Keluarga-keluarga berduka mengebumikan sanak saudara mereka di pemakaman umum, sementara prosesi pemakaman terus berlangsung hingga jam-jam terakhir menjelang hari raya, akibat serangan udara dan tembakan artileri yang masih berlanjut.
Di jalanan yang seharusnya ramai dengan suara tawa anak-anak dan aroma daging kurban yang mengepul, yang terdengar justru dentuman bom dan tangisan para ibu. Sejumlah warga berusaha mempertahankan tradisi dengan membagikan daging kurban kepada tetangga yang kehilangan rumah, namun banyak yang tak punya apa-apa untuk diberikan—selain harapan akan kedamaian yang semakin jauh.
Puluhan warga sipil tewas dalam serangan selama 48 jam terakhir sebelum Idul Adha, menurut kementerian kesehatan Gaza, termasuk sejumlah anak dan perempuan tua yang sedang berjalan menuju pasar. PBB menyatakan keprihatinan mendalam atas “pembunuhan sistematis terhadap hak-hak dasar warga sipil,” sementara Israel mempertahankan bahwa serangan itu ditujukan untuk “menghancurkan infrastruktur militer Hamas.”
Namun, di tengah kehancuran, seorang kakek berusia 78 tahun di Khan Younis tetap berdiri di depan reruntuhan rumahnya, mengangkat sepotong daging kurban ke udara sambil berbisik: “Allahu Akbar. Kita masih hidup. Dan kita masih punya iman.”
Di Gaza, Idul Adha bukan lagi sekadar perayaan—ia menjadi ujian ketahanan, sekaligus pengingat bahwa manusia bisa tetap beribadah bahkan ketika dunia di sekelilingnya runtuh.















